Umar dan Mainan Kayunya

(Business Lounge – Culture) Jaman sudah semakin maju, teknologi pun semakin mutakhir. Banyak anak-anak “dicekoki” permainan berteknologi yang mengikuti perkembangan zaman. Saya masih ingat permainan yang tiba-tiba muncul pada masa saya masih duduk di bangku sekolah dasar yang disebut dengan game watch. Kemudian muncul lagi permainan lainnya seperti tetris, tamagotchi, dan berkembang lagi dengan nitendo, dan terus semakin canggih hingga hari ini.

Hal ini membawa persaingan tersendiri bagi para pengusaha mainan anak bahkan tak jarang menyebabkan gulug tikar. Apalagi pengusaha mainan anak tradisional. Tetapi Pak Umar tetap setia dengan usaha mobil-mobilan kayunya. Ia telah menekuni usaha mobil-mobilan kayu ini sejak tahun 1970 dengan mengambil lokasi Kalibata, Pasar Minggu.

Pria yang kini telah berumur ini mengakui bahwa kesulitan yang dihadapinya terutama pada bagian produksi. Bayangkan untuk membuat satu mainan kayu dengan jenis truk saja, dia membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari proses pengerjaan. Sebab peralatan yang digunakan masih terbilang manual. Hal tersebut yang menyebabkan Umar kesulitan untuk mensuplai barang-barang produksi keluar daerah.

IMG_0196

 

IMG_0202

Usaha Umar ini sebenarnya pernah mengalami kejayaan yaitu ketika ia memulai pembuatan mainan kayu ini pada tahun 1970-an. Kala itu ia sampai mempekerjakan sebanyak 50 karyawan dan dapat menghasilkan omzet mencapai 30 juta rupiah per bulan. Umar bahkan mengaku kewalahan untuk memenuhi pesanan yang datang, tidak hanya dari wilayah lokal, bahkan mancanegara. Dengan usahanya tersebut, Umar bahkan mampu membiayai kelima anaknya sampai ke perguruan tinggi bahkan satu di antaranya telah berhasil menggenggam pendidikan S2.

IMG_0198

IMG_0199

Namun zaman telah berubah. Lebih mudah menemui mainan impor tetapi Umar tetap mencoba untuk tetap bertahan walaupun peralatan manualnya ternyata tidak mampu menghasilkan tandingan kualitas barang seperti produk Cina yang memiliki kualitas lebih bagus. Pesanan semakin berkurang sehingga ia tidak membutuhkan karyawan sebanyak sebelumnya bahkan cenderung semakin berkurang. Tetapi Umar terus berjuang untuk mendapatkan pasarnya.

Untuk satu jenis miniatur mobil truk kayu, Umar mematok harga Rp. 50 ribu, sedangkan untuk jenis Kereta Api, dia hargai Rp. 300 ribu. Mainan berbahan kayu yang lainnya seperti bajaj, kuda-kudaan dijual bervariasi dari dari Rp 30.000 sampai Rp 300.000 per buah.

IMG_0191

Sonang Elyas/Journalist/VMN/BL
Editor: Ruth Berliana
Image: Sonang Elyas