Risky – Dudes of Gourmet

Santa-D-O-G

D.O.G atau Dudes of Gourmet sebuah stand yang menyajikan hotdog yang bukan sembarang hotdog. Hotdog yang ditawarkan adalah hotdog dengan roti yang berwarna hitam. Hmmm…sangat menarik dan membuat pengunjung pasar tertarik untuk mencobanya. Risky, sang pemilik sekaligus “otak” dari usaha hotdog ini memang telah membuat terobosan yang lain untuk mengangkat nilai hotdog yang sebenarnya memiliki tren yang menurun.

Apa ide dibalik bisnis ini ?

Sebenarnya berawal dari anak-anak kantoran yang hobi kulineran, doyan makan, dan suka masak bareng di kantor. Sampai kita ketemu kesempatan untuk bikin sebuah usaha maka kita putusin untuk membuat sesuatu yang lain dari yang lain. Awalnya beberapa produk kita pertimbangkan untuk kita jual. Apa ya, yang cepat untuk dijual? Dari burger, pasta, tetapi akhirnya kita putusin untuk memilih hotdog. Tetapi hotdog itu kan trennya menurun di masyarakat. Sehingga kita cari ide, apa yang bisa membuat menarik hotdog ini. Akhirnya kita buat roti untuk hotdog ini berwarna hitam. Itu selling point-nya.

Kenapa memilih Pasar Santa ?

Karena ada kesempatan dengan harga yang murah untuk setahun. Itu yang menjadi trigger kita berani mencoba membuat usaha hotdog ini di sini. Kalau gak ada tempat ini, kita gak akan mulai.

Apa relationship anda dengan pasar basah dibawah ?

Ya, secara mutualisme. Gue beli packaging, dan semua kebutuhan di bawah, seperti minyak, kipas, lampu semua beli di bawah.

Apa rencana anda ke masa depan

Untuk waktu dekat pengembangnya akan lebih ke event-event, juga gathering seperti pop up booth. Sampai saat ini sih belum terpikir untuk membuka cabang atau jadi franchiser.

Apa harapan anda untuk pasar ini di masa mendatang ?

Gue berharap, pasar ini makin ramai, asosiasi dari anak-anak pasar makin jalan dan membuahkan suatu karya yang dapat dilihat masyarakat luas. Jug ague berharap, mindset masyarakat tentang pasar berubah. Pasar bukan lagi tempat yang menjijikan, bukan tempat kriminal, bau, dan banyak preman. Pandangan tentang pasar itu harus digeser.

uthe/Journalist/VMN/BL
Editor: Ruth Berliana