On Focus : abcd school of coffee

Santa-VeHandojo-ABCDcoffee

Sangat mudah untuk menemukan ABCD School of Coffee di Pasar Santa lantai 3. Kios mereka sangat khas dengan kayu alam sebagai dinding dan bendera Indonesia terbentang di atasnya. Kios yang cukup lebar ini tak disangka memiliki peralatan coffee-making yang sama mewahnya dengan coffee shop ternama yang biasanya berada di daerah elite ibukota.

“Semua jenis dan penataan peralatan disini sesuai dengan standarisasi World Barista Championship,” ujar Hendri.

ABCD School of Coffee adalah tenant pertama lantai 3 pasar santa. Didirikan di tahun 2012 oleh Ve Handojo dan Hendri.  Bermula dari sering berkunjung ke Santa, Hendri, yang bekerja sebagai konsultan kopi untuk beberapa specialty coffee shop ternama di Indonesia, sebut saja seperti 1/15 di Gandaria, Sabang 16, Java Dancer dan banyak lagi. Hendri berfikir untuk membuka kantornya di lantai tiga pasar santa.

“Awalnya tempat ini sepi dan kosong, sewanya juga murah,” demikian Ve bertutur.

Hendri, adalah salah satu juri dari World Barista Championship, atau disingkat sebagai WBC. Acara ini setara dengan World Cup khusus barista di seluruh dunia. Oleh karena itu, ia terkadang memperoleh coffee beans yang langka maupun yang tidak ada di pasaran Indonesia.

“Karena udah terlalu banyak, waktu itu Ve punya ide, bikin acara ngopi di pasar waktu bulan Juni lalu, di mana kita kasih kopi-kopi ini untuk diapresiasi, dan ternyata…peminatnya banyak !” ujar Hendri

ABCD tidak memungut biaya dari event ini, melainkan mereka menaruh kotak apresiasi sehingga masyarakat bisa mencicipi langsung kopi berkualitas dan membayar sesuai kerelaan mereka. Sejak saat itu jgua, pengunjung yang berkunjung mulai memperhatikan Pasar Santa. Dari situ, makin banyak yang tertarik untuk membeli atau menyewa kios di abcd.

“Awalnya gue sempet nyaris terjebak. Mau bikin acara-acara seperti ini saja,” ungkap Ve. “Tapi passion Henri adalah untuk berbagi  skill dan passion-nya dengan orang lain, dan dari situ, lahirlah abcd school of coffee.”

Ve dan Hendri mengadakan kursus pembuatan kopi secara professional disini sejak itu. Tak disangka peminatnya selalu banyak.

“ABCD itu selain singkatan dari A Bunch of Caffeine Dealer, itu juga singkatan untuk kelas apa saja yang kami tawarkan. A untuk “Appreciation”, B untuk “Brewing”, C untuk “Cupping”, D untuk “Definitive Espresso Class,” jelas Hendri.

“Peminatnya banyak. Space-nya butuh yang lebih luas, apalagi sekarang daerahnya sudah mulai ramai, jadi banyak yang tidak bisa konsentrasi belajar. Dan berarti harus investasi lagi, karena espresso machine saja misalnya itu kisaran 60 sampai 80 juta,” ujar Ve.

Hal menarik lainnya, Hendri dan Ve rupanya tergolong Social Entrepreneur. Mereka memiliki passion untuk mencetak barista-barista berkualitas melalui anak yatim piatu.

“Ya kami juga bekerjasama dengan salah panti asuhan ternama di Jakarta. Kebanyakan anak-anak panti asuhan itu tidak mendapatkan dana lagi setelah lulus SMA,  jadi kami ajarkan untuk menjadi barista supaya mereka punya skill untuk melanjutkan ke kuliah ataupun bertahan hidup,”ujar Hendri.

Lanjutnya lagi, Barista bukanlah profesi sembarangan. Barista yang berkualitas sedang diminati di cafe, coffee shop ataupun restoran karena proses pembuatan kopi yang baik bukanlah perkara mudah. Hendri juga menceritakan bagaiamana salah satu anak didiknya sudah pernah bersanding di kompetisi bergengsi.

Di tengah-tengah kesibukannya, ABCD masih menjalankan “tradisi” yang telah mereka mulai sejak Juni, yaitu mereka akan mengadakan ngopi bareng ataupun charity brew. Karena mereka mengadakan acara-acara ini di waktu yang random, bagi para pembaca yang ingin menyicipi kopi kualitas juri WBC, bisa follow instagram @abcd_coffee.

Michael Judah /VMN/BL
Editor: Ruth Berliana

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.