Roket Orbital Meledak Sesaat Setelah Peluncuran

(Business Lounge – News & Insight) Sebuah roket tak berawak milik Orbital Sciences Corporation meledak pada Selasa (28 Oktober) menjadi sebuah bola api raksasa dan jatuh kembali ke Bumi hanya beberapa detik setelah diluncurkan. Roket ini diluncurkan untuk mendukung misi dari Stasiun Antariksa Internasional.

“The Antares roket mengalami kecelakaan tak lama setelah lepas landas,” demikian dikatakan NASA mission control di Houston dan menggambarkan kejadian ini sebagai “anomali bencana”, demikian dilansir oleh AFP.

Setelah hitungan mundur, roket dinaikkan kemudian aba-aba untuk roket diberikan. Roket mulai terbang hingga enam detik kemudian roket tiba-tiba meledak dan terlihat sebuah bola api. Roket yang diselimuti api tersebut kemudian jatuh ke tanah.

Penyidik ​​cepat mengamankan daerah sekeliling dan melarang dilakukannya interview kepada saksi yang berkaitan dengan peralatan rahasia yang telah naik ke pesawat ruang angkasa tersebut. Belum jelas apa yang menyebabkan ledakan.

“sampai saat ini tampak bahwa kerusakan terjadi pada fasilitas,” demikian disampaikan seorang komentator di televisi NASA. Kejadian ini tidak menimbulkan korban demikian disampaikan badan antariksa AS. Namun ada kerusakan properti yang signifikan.

Roket ini juga dikabarkan membawa 2.200 kilogram perbekalan untuk enam astronot yang tinggal di pos penelitian. Teknisi mengatakan penghitungan mundur berlangsung lancar, dan jelas tidak ada masalah dengan mesin. Misi, yang dikenal sebagai CRS-3, adalah perjalanan keempat Orbital ke ISS, termasuk sebuah demonstrasi perdana.

Pada televisi NASA, seorang pria yang diidentifikasi sebagai wakil presiden eksekutif Orbital Frank Culbertson mengatakan pada timnya untuk berlaku profesional dalam hal ini dan melarang timnya untuk tidak berbicara kepada pers.

“Ketika kita memahami apa yang telah terjadi, maka kita berharap akan mendapatkan kembali semuanya sesuai dengan jalur yang seharusnya,” demikian dikatakan Culbertson kepada stafnya. “Kita semua telah melihat ini terjadi dalam bisnis kami sebelumnya, dan kita semua telah melihat bagaiman tim kami telah kembali pulih,” demikian ia melanjutkan. “Seperti sudah saya katakan, bersikaplah bijaksana untuk tidak membicarakan hal ini dan berspekulasi.”

Orbital memiliki nilai kontrak US $ 1,9 dengan NASA untuk total pasokan misi sebanyak 8 buah.

Setelah program pesawat ulang-alik AS berakhir pada tahun 2011, tanpa meninggalkan program pemerintah untuk mengirim manusia ke stasiun ruang angkasa, perusahaan swasta berlomba untuk memulihkan akes US akses. SpaceX Dragon adalah pesawat ruang angkasa komersial pertama untuk membuat perjalanan pasokan pada tahun 2010.

uthe/Journalist/VMN/BL
Editor: Ruth Berliana
Image: youtube