Keputusan Amerika Untuk Tenaga Perbantuan yang Kembali dari Afrika Barat

(Business Lounge – News & Insight)

Amerika memang telah sangat berjiwa besar ketika memutuskan untuk mengirimkan para tentaranya dan petugas kesehatannya ke Afrika Barat untuk memberikan bantuan pada negara-negara yang dilanda Ebola. Namun tidak demikian saja mereka yang telah dikirim ke Afrika Barat dapat kembali ke Amerika. Ada masa karantina yang harus mereka lalui terutama para tentara. Sedangkan para petugas kesehatan akan mengikuti rangkaian prosedur pengawasan.

Para tentara akan dikarantina selama 21 hari sedangkan petugas kesehatan akan dimonitor sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Kembali Dari Afrika Barat

Belasan tentara AS, termasuk komandannya Mayor Jenderal Darryl Williams, telah menyelesaikan tugasnya membantu mendirikan beberapa medical center dan menyelenggarakan pelatihan bagi para petugas kesehatan setempat. Namun mereka tidak dapat langsung kembali ke Amerika melainkan terbang ke home base mereka di Vicenza, Italia dan akan dikarantina di sana selama 21 hari, demikian diumumkan oleh Departemen Pertahanan pada Senin (27/10) seperti dilansir oleh NBC.

Keputusan ini telah ditetapkan walaupun pada kesehariannya para tentara tidak mengadakan kontak langsung dengan para penderita Ebola.

Seluruh tentara yang dikarantina ini otomatis tidak akan dapat kembali ke rumah mereka, tidak dapat berinteraksi dengan siapapun juga yang ada di Pangkalan Militer tersebut, kecuali para pekerja yang bekerja di kawasan karantina, seperti dilaporkan oleh NBC.

Diterapkan Kepada Angkatan Darat

Hingga saat ini, ketentuan untuk mengkarantina selama 21 hari ini baru diterapkan pada Angkatan Darat sesuai dengan keputusan Kepala Staf, Jenderal Ray Odierno pada akhir pekan lalu. Karena memang baru para tentara Angkatan Daratlah yang kembali dari Afrika Barat. Namun hal ini telah menjadi pertimbangan bagi para pejabat pertahanan lainnya yang saat ini memiliki tim yang sedang ditugaskan di Liberia dan Senegal.

Saat ini tercatat sekitar 600 staf militer AS tengah diperbantukan di negara-negara yang terjangkit Ebola. Sebelumnya Presiden Amerika Barack Obama telah berkomitmen untuk mengirimkan setidaknya 4.000 tentara untuk membantu menangani masalah logistik di Afrika Barat. Namun kemungkinan besar akan terdapat insinyur, dokter spesialis, dan tim logistik. Mereka semua diharapkan untuk tidak berhubungan langsung dengan pasien.

Mereka yang Beresiko Tertular Ebola

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Dr Thomas Frieden mengatakan bahwa mereka yang berisiko tinggi terjangkit Ebola adalah termasuk petugas kesehatan yang melakukan kontak dengan jarum suntik yang digunakan pasien Ebola atau mereka yang melakukan kontak dengan pasien ebola tanpa menggunakan alat pelindung, demikian diberitakan oleh Reuters. Terutama para petugas kesehatan yang diperbantukan di Afrika Barat. Sementara para petugas kesehatan yang merawat pasien ebola di pusat perawatan milik AS cenderung memiliki resiko yang rendah tetapi tetap beresiko.

Keputusan Gubernur New Jersey dan New York

Walaupun keputusan pekan lalu yang dikeluarkan oleh Angkatan Darat tidak mewajibkan para petugas kesehatan untuk mengikuti karantina melainkan mengikuti prosedur monitoring yang telah ditetapkan, Gubernur New Jersey dan Gubernur New York tetap memutuskan bahwa setiap tenaga perbantuan yang kembali dari negara-negara terjangkit Ebola wajib untuk dikarantina.

New Jersey telah mengkarantina Kaci Hickox, seorang perawat yang kembali dari Sierra Leone pada Jumat (24/10) sehabis membantu merawat pasien ebola. Hingga Senin (27/10) Hickox tidak memperlihatkan gejala-gejala terjangkit Ebola sehingga dapat segera pulang.

uthe/Journalist/VMN/BL
Editor: Ruth Berliana
Image: Antara