AT & T Didenda US $ 105 juta Untuk Layanan Tidak Sah

(Business Lounge – Business Insider) AT & T telah menghadapi penyelidikan yang diadakan oleh Komisi Perdagangan Federal, Komisi Komunikasi Federal dan pengacara umum untuk negara bagian AS. Perusahaan ponsel Raksasa milik AS ini harus membayar US $ 105 juta sebagai dampak penyelesaian setelah penyelidikan yang berkaitan dengan biaya tagihan telepon selular untuk layanan pihak ketiga yang tidak sah seperti horoskop dan “fun facts,” demikian dikatakan para pejabat terkait pada Rabu (8/10) seperti dilansir oleh AFP.

Ketua Federal Trade Commission (FTC), Edith Ramirez mengatakan bahwa AT & T telah setuju untuk membayar denda untuk menyelesaikan tuduhan berkaitan dengan langganan bulanan dari para konsumen yang sebenarnya tidak menginginkan dan menolak membayar layanan tambahan tersebut. Memberikan layanan tambahan yang tidak diiginkan konsumen yang kemudian berakibat pada penambahan biaya dianggap merupakan sebuahpenipuan.

Para pejabat mengatakan beberapa konsumen mengeluh oleh karena menemukan biaya setelah menerima pesan teks yang menawarkan layanan, dan berakhir sebagai tagihan setelah mereka menghapus pesan tersebut. Layanan ditagih sekitar US $ 10 per bulan untuk hal-hal seperti nada dering, tip cinta, horoskop, dan “fun facts.” AT & T setidaknya mendapatkan 35 persen pemasukan dari jumlah tersebut, menurut FTC.

Vermont Jaksa Agung Bill Sorrell, yang bergabung dalam konferensi pers pada kasus ini, mengatakan hal ini harus diakhiri sebab dikategorikan sebagai penipuan pada jutaan dan miliaran orang Amerika. Kasus ini adalah kasus yang ketujuh yang dibawa oleh FTC, dan mengikuti gugatan yang diajukan oleh lembaga perlindungan konsumen terhadap T-Mobile.

Penyelesaian termasuk US $ 80 juta yang akan dikembalikan oleh FTC kepada konsumen, US $ 5 juta ke FCC dan US $ 20 juta sebagai denda ke Amerika Serikat. Telekomunikasi raksasa ini juga sepakat untuk memberlakukan formulir persetujuan apabila akan menambahkan jenis-jenis biaya layanan premium lainnya.

uthe/Journalist/VMN/BL
Editor: Ruth Berliana
Image: