Bertambahnya Jumlah “Single” di Singapura, Pemerintah Perlu Tinjau Sistemnya

(Business Lounge – News & Insight) Pada Kamis (25/9) Singapura merilis data statistik kependudukan yang menunjukkan semakin meningkatknya jumlah penduduk single di Singapura, demikian dilansir oleh Channel News Asia. Selain itu dari data yang ada juga menunjukkan tren penundaan pada usia pernikahan.

Bertambahnya Mereka Para Single

Hal ini tidak hanya terjadi pada pria, tetapi juga pada wanita. Para pengamat mengatakan bahwa angka ini mengkhawatirkan terhadap latar belakang dari penyusutan populasi penduduk di Singapura dan semakin bertambahnya populasi mereka yang berusia. “Ketika mereka bertambah tua dan harus pulang sendirian, sementara tidak ada teman untuk berbicara, maka hal itu akan menimbulkan masalah baik secara psikologis maupun juga pada finansial,” demikian dikatakan Dr Chung Wai-Keung, Asisten Profesor Sosiologi sebuah universitas di Singapura. .

Untuk pria dengan pendidikan yang kurang dan berpendapatan lebih rendah, ini akan berdampak kepada rendahnya tabungan dana pensiun mereka yang kemudian akan menjadi masalah jika mereka tetap single ketika usia mereka bertambah. Untuk wanita dengan pendidikan yang lebih tinggi tabungan dana pensiun mungkin tidak menjadi masalah, tetapi bertambahnya usia maka mereka akan menjadi tanggung jawab pemerintah.

Chung melanjutkan bahwa Singapura perlu mengevaluasi kondisi ini dalam waktu 10 tahun. Sebab akan diperlukan sistem kesehatan masyarakat yang lebih baik yang dapat mengakomodir situasi ini. Demikian juga dalam hal perumahan, perlu dipikirkan adanya perumahan bagi orang-orang single. Chung juga menyarankan untuk dibangunnya komunitas yang didominasi oleh orang-orang single serta menambahkan fasilitas pelayanan publik lainnya, seperti apa yang telah dilakukan di Hong Kong.

Pernikahan  Dengan Warga Asing

Banyak mereka yang kurang berpendidikan cenderung memilih untuk menikah dengan mereka yang berasal dari negara- negara berkembang. Tercatat ada lebih dari 5.000 pernikahan antara pria Singapura dan perempuan asing tahun lalu. Konselor Willie Chien mengatakan pernikahan tersebut akan membawa mereka kepda masalah-masalah sosial lain. Demikian juga ada 1.500 wanita Singapura yang menikah dengan pria asing pada tahun lalu. Jumlah ini hampir dua kali lipat angka pada 10 tahun yang lalu.

Berkurangnya Angka Kelahiran

Berkurangnya angka kelahiran di Singapura dipandang masalah yang penting bagi negara ini. Sangking dipandang penting maka pemerintah pun turun tangan dalam kampanye perjodohan. Namun hal ini belum juga membuahkan hasil.

Pada 2008, tingkat kelahiran Singapura berada di titik terendah ke-3 (hanya 1,28 anak setiap wanita), sedangkan untuk mengganti populasi pada masa depan diperlukan minimal 2,1. Sedangkan pada 2011, tingkat kelahiran menurun ke 1,2.

uthe/Journalist/VMN/BL
Editor: Ruth Berliana
Image: