Smart Knowledge Worker (2)

Knowledge Worker di Era Pengetahuan

(Business Lounge – Empower People) – Istilah knowledge worker dikumandangkan pertama kali oleh pakar manajemen Peter Drucker 40 tahun lalu. Thomas H. Davenport mendefinisikan knowledge worker sebagai pekerja yang memiliki tingkat keahlian, pendidikan dan pengalaman yang tinggi. Tujuan utama mereka selalu melibatkan proses penciptaan, pendistribusian dan pengaplikasian pengetahuan. Alvin Soleh, seorang praktisi dan konsultan di bidang knowledge management, berpendapat bahwa knowledge worker adalah orang yang peduli pada perkembangan dan pembaharuan pengetahuan atas dirinya.

Keberadaan knowledge worker dilatarbelakangi oleh lahirnya era ekonomi berpengetahuan (knowledge economy) yang berlawanan dengan era bisnis keluarga. Pengetahuan menentukan tingkat keberhasilan seseorang di dalam organisasi.

Sejalan dengan waktu dan meningkatnya persaingan bisnis, meningkat pula standar kualifikasi SDM di perusahaan. Peningkatan kualifikasi ini kemudian menciptakan sebuah era baru, yaitu era knowledge economy dimana keunggulan kempetitif jangka panjang (sustainable competitive advantage) hanya didapat melalui aktivitas pemanfaatan serta pengembangan secara sistematis para knowledge worker, yaitu para pekerja yang produktivitasnya berbanding lurus dengan tingkat pengetahuan mereka.

Tuntutan yang dihadapi para pekerja pengetahuan berbeda dengan pekerja era sebelumnya. Mereka di tuntut untuk beraktivitas secara kreatif dan menciptakan inovasi-inovasi baru. Karena itu mereka memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu haus belajang (life-long learner), termasuk belajar dari pengalaman dan terus mengembangkan pengetahuannya, sehingga kontribusi terhadap perusahaan terus meningkat seiring dengan meningkatnya pengetahuan.

Menurut Alvin Soleh, ada lima hal utama yang dimiliki seorang pekerja pengetahuan dengan istilah ”SMART”, yaitu kepanjangan dari :

  • Self-driven – memiliki dorongan pribadi untuk menyelesaikan pekerjaan
  • Motivated – memiliki motivasi tinggi dalam bekerja
  • Action oriented – berorientasi pada aktivitas bukan rutinitas
  • Responsible – memiliki tanggungjawab atas pekerjaannya
  • Team Player – bekerja dengan baik dalam tim

Dengan sifat utama SMART para knowledge worker dikenali dengan sikap :

  • Memiliki banyak ide-ide yang bermanfaat (creative)
  • Menciptakan hal-hal yang baru dalam pekerjaannya (innovative)
  • Sangat menguasai bidang pekerjaannya (expert)
  • Memiliki pengetahuan yang tinggi atas profesinya (knowledgeable)
  • Memiliki rasa ingin tahun yang tinggi (interested)
  • Memiliki ikatan kuat dengan profesinya (engaged)
  • Memiliki andil yang besar (contributor)
  • Tidak terikat dengan hanya satu pekerjaan pada satu saja, tetapi mampu melakukan beberapa pekerjaan sekaligus
  • Berhubungan dengan banyak orang dalam profesinya
  • Terus belajar (life-long learners), karena tidak takut tersaingi
  • Memiliki otoritas dari pengetahuan
  • Sangat peduli dengan segala hal yang terkait dengan bidang profesinya

Untuk bertransformasi menjadi seorang knowledge worker setidaknya diperlukan 3 kriteria mentalitas. Pertama, mental pembelajar abadi, kalau diterjemahkan secara sederhana, pembelajar itu berarti orang yang melakukan aktivitas belajar. Tetapi penekanannya tedapat dalam kata ”belajar” itu sendiri. Kedua, mentalitas knowledge sharing atau berbagi pengetahuan. Menjadi pembelajar saja sebenarnya tidak cukup untuk menjadi knowledge worker. Berbagi informasi sama pentingnya dengan proses belajar itu sendiri. Hilangkan pandangan bahwa knowledge is power. Sekarang ini pengetahuan bukanlah sebuah kekuatan. Knowledge sharing-lah kekuatan sesungguhnya.

Ketiga, mentalitas knowledge innovator. Seorang knowledge innovator akan mempertegas bahwa kekuatan sebagai pembelajar abadi dan orang yang mampu berbagi akan lebih maksimal apabila kita inovatif. Singkatnya, untuk belajar dan berbagi kita perlu inovatif agar mencapai hasil yang optimal. Mentalitas ini menuntut kemampuan bersinergi. Knowledge management hanya mengenal collective, bukan personal achievement.

Karena itu yang dibutuhkan adalah sifat open minded, bukan narrow minded. Seorang knowledge worker adalah sosok yang proaktif. Dia tidak mau menunggu orang memberi perintah kalau ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Ia juga akan melakukannya lebih baik dari yang ditargetkannya.

Ketiga mentalitas tersebut memang terlihat seperti sesuatu yang sangat ideal dan kelihatan cukup sulit untuk diterapkan oleh karyawan. Namun jika benar-benar diaplikasikan, kita bisa merasakan efektivitas dan potensi maksimal dari seorang knowledge worker dalam perusahaan. Kalau perusahaan maju, kita juga yang akan merasakan kenikmatannya.

Glory/Praktisi Management dan Kontributor BL
Editor: Iin Caratri