Menyimak Gaya Kepemimpinan Coercive

(Business Lounge – Lead & Follow) Bagaimanakah seorang pemimpin pemadam kebakaran harus bertindak saat menghadapi kebakaran besar terjadi? Bagaimana pemimpin sebuah kota bertindak saat ada serbuan musuh radikal yang sangat ganas dan tidak memiliki hati nurani? Bagaimana pemimpin bertindak saat bencana alam terjadi dan keadaan begitu tidak terkendali dan kepanikan terjadi.

Dalam pendekatan kepemimpinan, pemimpin harus menggunakan “coercive style” untuk  bertindak pada saat  situasi yang sangat urgent dan important terjadi, krisis dan kepanikan terjadi, segalanya tidak terkendali. Coercive style sering dipandang negatif dan tanpa perasaan, namun dalam keadaan krisis gaya kepemimpinan seperti ini sangatlah diperlukan.

Dalam perusahaan, contoh kejadian darurat yang membutuhkan kepemimpinan dengan coercive style  adalah pada saat ada karyawan atau pelanggan yang kecelakaan kerja di sebuah toko produk perusahaan. Keadaan ini tidak mungkin diatasi oleh seorang yang menerapkan gaya kepemimpinan demokrasi, karena disini tidak diperlukan musyawarah,  namun tindakan cepat dan tepat seorang pemimpin untuk menyelamatkan nyawa.

Dalam bagan yang nampak di atas,  ada tiga emotional intelligence utama  yang harus dimiliki dan menggerakkan seorang pemimpin menggunakan coercive style. Pertama adalah drive to achieve, bila seorang pemimpin memiliki kemampuan emosi ini, maka ia akan kuat sekali untuk mencapai apa yang dinginkan. Initiative sangat diperlukan pada saat krisis, sehingga tidak akan berhasil mengatasi krisis bila tidak memiliki inisiatif. Self control, dalam kondisi krisis yang menjadi lawan dari seseorang, termasuk seorang pemimpin adalah dirinya sendiri yang panik, ketakutan dan tidak terkendali. Karena itu pemimpin perlu memiliki ketenangan dan penguasaan diri yang baik dalam krisis.

Modus operandi seorang pemimpin dalam kondisi  seperti ini tercermin dalam sikap atau instruksinya. Jenis instruksi pertama  yang timbul adalah demanding, instruksinya sangat menuntut, memaksa dan tidak dapat ditawar.  Kedua, instruksi atau sikapnya immediate, harus dikerjakan dengan cepat, tidak mau berlambat-lambat, tidak boleh ditunda, instruksi sifatnya segera. Ketiga, instruksi sifatnya compliance harus ditaati, jangan ada penyimpangan, fokus pada tujuan. Jelas sekali ketiga kemampuan ini harus dimiliki oleh seorang pemimpin pada saat krisis, tidak boleh ada kelemahan instruksi disini.

Pemimpin yang menggunakan coercive style selalu akan berkata “do what I tell you! ikuti saja perintahku.” Ini adalah sikap yang akan terlihat dari luar, hasil keseluruhan faktor yang membentuk sikap seorang pemimpin. Secara keseluruhan dampak dari pemimpin dengan coercive style akan dilihat negatif oleh perusahaan atau organisasi. Pemimpin tidak disukai, dibenci oleh banyak orang karena sikapnya yang tidak banyak tanya namun langsung minta dikerjakan saja. Namun akan segera berubah menjadi sikap yang hormat dikala tindakannya membuat perusahaan atau organisasi keluar dari krisis.

Efekifitas penggunaan gaya kepemimpinan tergantung kepada dua hal, yang pertama adalah kondisi pekerjaan atau sifat tugas itu sendiri, dan yang kedua adalah kesiapan atau kematangan seorang bawahan. Bila situasi pekerjaan dalam kondisi yang tidak genting menggunakan coercive style hanya akan mendatangkan penolakan, begitu juga bila bawahan tidak siap atau belum dewasa, maka tidak ada instruksi yang akan dikerjakan, yang ada hanyalah kefrustasian bawahan karena merasa pimpinannya terlalu memaksa. Jadi penting sekali menempatkan penggunaan coercive style ini pada situasi kondisi yang tepat.

Fadjar Ari Dewanto Fadjar Ari Dewanto/Managing Partner Business Advisory Vibiz Consulting/VMN/BL