Malaysia Airlines Akan Berhentikan 6000 Karyawannya

(Business Lounge – News & Insight) Malaysia Airlines memberhentikan 6.000 karyawannya sebagai sebuah bagian dari strategi yang dipilihnya dalam memulihkan keadaanya setelah dua kali terkena bencana tahun ini. Pemberhentian ini akan mengakibatkan berkurangnya jumlah karyawan sebesar 30% dari total 20,000 karyawan yang dimiliki maskapai penerbangan Malaysia ini.

Maskapai ini benar-benar akan menjadi milik negara, dan akan ditunjuk CEO baru yang akan memimpin perusahaan ini. Khazanah Nasional, perusahaan investasi milik negara yang sebelumnya memiliki 69% saham di perusahaan yang bermasalah ini, akan mengambil 100% kepemilikan.

Diperkirakan rencana pemulihan akan memakan biaya sekitar US $ 1,9 miliar (21 triliun rupiah).

Seperti dilansir oleh BBC, Direktur Khazanah Azman Mokhtar mengatakan bahwa kombinasi kebijakan yang diumumkan Jumat (29/8) akan memungkinkan maskapai penerbangan Malaysia ini dapat dihidupkan kembali. “Kesuksesan memang tidak dapat dijamin, tetapi sangat penting untuk menghidupkan kembali MAS (Malaysia Airlines) bagi pembangunan nasional,”demikian Azman menambahkan.

Langkah-langkah Pemulihan

Sebagai langkah pemulihan maka Malaysia Airlines akan meniadakan rute jarak jauhnya.  Sebagai targetnya, maskapai ini akan berupaya untuk kembali memperoleh keuntungan pada tahun 2018. Memang harus diakui bahwa maskapai ini telah mengalami penurunan tajam untuk pemesanan kursi setelah terjadinya dua bencana yang menimpa maskapai ini.

Hal ini telah membawa Malaysia Airlines kepada masa sulit yang mengakibatkannya kehilangan miliaran ringgit.

Oleh karena kepemilikannya akan diambil alih oleh Khazanah Nasional sebanyak100%, maka perusahaan ini akan benar-benar dihapuskan dari Bursa Malaysia pada akhir 2014. Kemudian aset yang relevan, operasional dan kewajiban Malaysia Airlines akan dialihkan kepada perusahaan baru mulai 1 Juli 2015.

Kepala eksekutif saat ini, Ahmad Jauhari Yahya, akan terus memimpin perusahaan sampai perusahaan baru terbentuk tahun depan.

Ahli wisata Simon Calder mengatakan bahwa pemotongan karyawan dan reorganisasi bisnis harus memungkinkan perusahaan untuk mengubah nasib sekitarnya.

Persaingan dari maskapai penerbangan bertarif rendah untuk penerbangan jarak pendek, ditambah dengan perluasan jarak jauh operator Gulf, telah meniadakan keuntungan perusahaan di masa lalu, demikian ia menambahkan.

uthe/Journalist/VMN/BL