Pelajaran Financial Planning: Berhutang Dengan Bijak

(Business Lounge – Manage Your Finances) Berhutang. Senang saat melakukannya, susah saat membayarnya. Tetapi kenapa kita senang ya? “Hutang saya sudah tidak terhitung, lebih dari rambut di kepala saya,” kata seorang ibu dalam obrolan di seminar bagaimana menata keuangan keluarga. Bayangkan sampai lebih banyak dari rambut di kepala, tentu hutang akan mencekik leher kalau diteruskan. Kata-kata kiasan ini mungkin pernah kita ucapkan juga saat kebiasaan berhutang tidak dapat dihentikan. Dimulai dari hutang kartu kredit, hutang KPR untuk rumah, hutang untuk mobil, hutang untuk motor, sampai perjalanan wisata rohani sekarang juga bisa berhutang.

Hutang yang positif

Tidak semua hutang bersifat negatif, contohnya saat berhutang untuk usaha, hutang seperti ini akan memberikan dampak yang positif bagi keuangan. Dalam teori keuangan, hutang jenis ini disebut leverage, atau pengungkit. Maksudnya saat berhutang akan mengungkit keuangan menjadi lebih meningkat. Sebagai contoh, saat membutuhkan tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga diputuskan sekarang berbisnis franchise retail Alfamart. Modal sendiri yang dimiliki tidak sampai 50 persen dari total kebutuhan modal yang diperlukan. Berhutang untuk sisanya bisa menolong agar usaha yang diharapkan mulai berjalan. Berhutang seperti ini adalah berhutang yang produktif, dengan perhitungan keuangan yang cermat dan hati-hati akan mengungkit keuangan keluarga menjadi lebih baik.

Berhutang yang positif juga dijumpai pada saat berhutang sebatas kemampuan bayar. Umumnya pengaturan batas ini dilakukan oleh personalia perusahaan maksimal 30 persen dari total pendapatan. Melebihi batas maksimal untuk berhutang akan menyebabkan kondisi keuangan tidak stabil, sebab itu lebih baik menghindari berhutang pada saat itu. Selain menyadari batasnya, menyadari juga penggunaannya, berhutang bukan untuk tujuan konsumtif yang hanya memuaskan keinginan dan bukan kebutuhan pokok.

Hutang yang negatif

Efek berhutang yang negatif tentulah dialami bila berlawanan dengan akibat yang positif, yaitu saat berhutang untuk tujuan konsumtif dapat menjerat dalam pemborosan yang tidak perlu. Ada banyak orang yang saat menerima penghasilan tidak menikmatinya sama sekali, sebab seluruhnya sudah habis untuk membayar cicilan hutang.

Spekulasi juga bisa berakibat negatif kepada keuangan. Keberanian seseorang mengambil hutang dengan biaya bunga yang tinggi untuk tujuan bisnis, bisa memberikan efek negatif kalau perhitungan bisnis yang dilakukan meleset dari perkiraaan.

“Hidup cukup dari pendapatannya saja bu….” itu nasehat saya kepada ibu yang hutangnya banyak tadi. Kalau sudah terlanjur terjebak pada hutang, maka harus ada penataan keuangan yang menyeluruh. Meminjam istilah perusahaan mesti ada debt restructuring, biasanya dilakukan dengan memperpanjang tenor sehingga memperkecil cicilan, atau dilakukan dengan mencari sumber pembiayaan yang murah yang membuat ringan beban hutang bagi keluarga. Namun yang terpenting adalah mengubah pola pengeluaran yang tidak lagi konsumtif dan mencukupkan diri dengan pendapatan yang ada.

Fadjar Ari DewantoFadjar Ari Dewanto/Managing Partner Business Advisory Vibiz Consulting/VMN/BL