Sepenggal Kita Dalam Satu Cerita

Angin bersemilir, rindu meradang. Dari suatu sudut aku menengadahkan wajahku ke langit. Memperhatikan apa yang terpantul pada bola mataku, lekukan malam, sejuta bintang dan kamu terlukis di dalamnya.

Sejenak aku menghela nafas dalam kesunyian yang merengkuh jiwaku.
Dalam sunyi aku sadar tidak sendiri, aku pun sadar..sunyi itu indah, sunyi itu tenang, teduh, dan tidak bersandiwara..percayalah.

Ketika hampaku terisi penuh dengan hamparan potongan cerita masa lalu dan impian masa depan.
Itulah kebahagiaanku dalam sunyiku.

Aku ingat bagaimana kita berbagi rongga ruang dan waktu kala itu.
Ah, lagi-lagi tenangku kembali terbuai. Ribuan andaiku menjadi sebuah doa, yaitu satu kamu.

Tapi, waktuku terus beranjak maju karena dia tidak pernah menunggu.
Dan aku, memutuskan untuk berpacu dengan waktu dan membekukan masa lalu.

Karena ada saat dimana kita tidak perlu kembali menoleh ke belakang dan jangan lihat lagi apa yang sudah kita tinggalkan.

Aku memilih pura-pura buta supaya lupa, memilih pura-pura lupa untuk meringankan luka. Semua kepura-puraan ini hanya menunggu waktu kapan menjadi nyata.

Dan aku percaya, ini akan meringankan langkah untuk menjemput sesuatu yang lebih melegakan, menjemput sesuatu yang membuat kita lebih bersyukur.

Kini pilihanku tertinggal jauh di masa lalu dan aku putuskan mengejar harapan dengan waktu. Semoga aku tidak tersandung lagi oleh bayanganmu, dan…

Semoga aku tidak (lagi) berjalan mundur.

Karena aku hulu dan kau hilir, namun kita…bermuara di tempat yang salah…

 

Stephanie Rebecca /Equity Analyst at Vibiz Research/VM/VBN