Followership Habits Sebagai Bekal Untuk Menjadi Good Leader

(Business Lounge – Lead & Follow) Followership didefinisikan dalam bahasa Inggris sebagai   the willingness to cooperate in working towards the accomplishment of the group mission, to demonstrate a high degree of teamwork and to build cohesion among the group. Dalam bahasa Indonesia berarti kemauan untuk bekerjasama dalam rangka pencapaian tujuan bersama, atau menunjukkan suatu tingkat kerjasama yang baik dan membangun ikatan diantara kelompok.

“Effective followership is an excellent building block to effective leadership.”

Bernhard Sumbayak penemu Indonesia Leadership Model menyatakan followership dan leadership  adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan , keduanya saling terkait satu dengan yang lain, untuk menjadi ‘good leader’ maka seseorang harus menjadi ‘good follower’ terlebih dahulu.

leadership jk

Bila kita membahas Leadership maka kita akan mendapatkan dibanyak artikel manajemen baik di dalam maupun di luar negri, namun waktu kita membicarakan followership,  maka cukup langka kita dapatkan referensi ataupun artikel yang membahasnya. Kami mencoba mencari di www.amazon.com gerai buku online di Amerika, tentang followership, hanya ada sekitar  48 buku  menulis followership, itupun sebagian besar hanya artikel pendek pada buku leadership, berbeda sekali dengan leadership maka kami menjumpai sekitar 2,060 buku, dvd, dll membicarakan leadership.

Ada beberapa teori yang ada mengenai followership seperti Model Robert E. Kelly (Carnegie Mellon Professor) atau Model Ira Chaleff (dalam the courageous follower).

Namun dalam Followership Habits, Bernhard Sumbayak menjelaskan sesuatu dari sudut pandang yang berbeda namun sangat relevan dan praktikal untuk diterapkan.  Anda akan menemukan bahwa apa yang disajikan dalam riset ini akan sangat membantu Anda, baik Anda sebagai seorang leader atau sebagai seorang follower.

Apa sebenarnya Followership Habits itu? Sama seperti leadership, followership mempunyai 3 aspek yang pertama atau pola terdalam adalah followership character, lalu followership capabilities dan bagian terluar yang terlihat dalam adalah ‘followership habits’ atau kebiasaan-kebiasaan follower. Dalam followership habits maka yang dimaksud adalah kebiasaan-kebiasaan yang diharapkan dari seorang follower, tentu saja kebiasaan yang baik yang akan membawa keberhasilan dari follower tersebut. Followership habits ini dipengaruhi oleh capabilities dan capabilities sendiri banyak dipengaruhi oleh character, demikian yang diuraikan Bernhard.

Selanjutnya dengan pengalamannya sebagai praktisi, player dan konsultan dalam bisnis ataupun formal dan informal job selama puluhan tahun, Bernhard menemukan adanya berbagai habit yang mesti dimiliki seorang follower, salah satu statementnya adalah: “For me, keep update is one of the most important habits to do as good follower, it will give magnitude benefit for both – the leader and don’t forget – the follower too.”

Dengan dasar hipotesa ini Vibiz Research Management mencoba melakukan penelitian yang hasilnya sangat relevan hingga saat ini.

Data

Meruntut hipotesa yang disampaikan Indonesia Leadership Model , maka  penelitian Vibiz Research Management dilakukan dengan jenis data yang diambil adalah data primer, yang diperoleh melalui survey menggunakan kuesioner. 200 responden diminta untuk memilih 8 dari 16 habit yang diharapkan dari seorang follower. Responden berasal dari karyawan yang berada pada level manajerial dan staff dari perusahaan-perusahaan yang bergerak di berbagai industri, yakni perbankan, keuangan, pemerintahan, telekomunikasi, travel, asuransi, otomotif, hukum, properti, hingga perminyakan.

Berikut ini adalah 16 followership habit yang disertakan pada kuesioner:

1    Selalu terlibat dengan aktif (Always get involved)

2. Mau berkolaborasi (be willing to collaborate)

3. Mau belajar dan berkembang (Developable)

4. Tangguh (Be tough)

5. Dapat dipercaya (Be a trustworthy person)

6. Jangan salahkan pemimpin (Don’t blame the leader)

7. Berani mengambil inisiatif (Be willing to take initiatives)

8. Tahu kondisi terkini dan bisa mengantisipasi (Stay current and be anticipate)

9. Jujur (Tell the Truth & Don’t Quibble)

10. Jangan jadi orang yang hanya berkata “ya” (Don’t be a yes person)

11. Update kepada pemimpin (Keep update)

12. Fix Problems as they Occur

13. Know what expect from them

14. Mendukung usaha pemimpin (Support the leader’s efforts)

15. Seorang follower tahu untuk mendengar (a follower knows how to listen)

16. Mengikuti perintah tanpa perlu berdebat (Follow Instruction, without debate)

Metode Pengolahan Data

Data diolah menggunakan tabulasi. Dari hasil pilihan responden akan ditabulasikan menjadi persentase dan ditampilkan delapan habit teratas. Pembahasan kami akan terbagi menjadi tiga:

  • Followership Habit pada Level Manajer
  • Followership Habit pada Level Staff
  • Perbandingan Followership Habit pada Level Manajer dan Staff.

Followership Habit pada Level Manajer

followership

Menurut responden yang berada pada level manajer, Followership Habit yang mereka anggap paling penting adalah ‘Be a Trustworthy Person’  yang dipilih oleh 9.13 persen responden. Ekspektasi utama seorang pemimpin kepada bawahannya adalah mereka dapat menjadi orang yang dipercaya. Menguraikan lebih jauh tentang trustworthy person, Bernhard melihat ada 2 hal terpenting untuk menjadi trustworthy, satu terkait dengan karakter yang lainnya adalah competence, seseorang dapat menjadi trustworthy apabila memiliki keduanya.

Selanjutnya, ‘Be Willing to Take Initiative’ yang dipilih oleh 8.17 persen responden menduduki ranking kedua sebagai Followership Habit yang terpenting menurut sudut pandang manajer. Pemimpin menginginkan supaya anak buah dapat berinisiatif dalam mengerjakan tugas, tanpa harus menunggu perintah dahulu.  Inisiatif dalam hal ini bisa berupa ide ataupun tindakan.

Habit‘Developable’ dan ‘Be Willing to Collaborate’ sama-sama dipilih oleh 7.69% responden dan menempati ranking ke-3. Seorang follower diharapkan untuk mengembangkan knowledge, skill serta ability-nya demi growth diri mereka sendiri serta untuk tim mereka juga. Dengan memberi kesempatan diri mereka sendiri untuk berkembang, maka jiwa kepemimpinan pada diri mereka akan berkembang. Selain itu, seorang follower diharapkan untuk bisa diajak bekerjasama dalam tim.

Selanjutnya, terdapat empat habit yang sama-sama dipilih oleh 7.21 persen responden dan menempati ranking keempat. Keempat habit tersebut adalah sebagai berikut:

Pemimpin mengharapkan supaya follower dapat memecahkan masalah begitu mereka menemukannya, dengan bergitu, hasil yang dicapai jadi lebih baik. Ini tercermin dari habit ‘Fix Problems As They Occur’ . Kemudian, melalui habit ‘Stay Current and Be anticipate’, pemimpin berkespektasi supaya bawahannya selalu up-to-date dan mengikuti perkembangan terkini dalam keahlian mereka masing-masing.

Selanjutnya, ‘Be Tough (Determination)’ menunjukkan bahwa pemimpin mengharapkan follower-nya tangguh dan punya determinasi yang kuat dalam menghadapi tekanan yang timbul. Berbicara mengenai habit ini seringkali banyak follower yang potensial, cerdas, namun kurang ‘tough” dalam menghadapi kenyataan ataupun supervisor mereka, sehingga mereka tidak berkembang sebagaimana seharusnya

Kemudian, habit yang turut menghuni posisi keempat adalah ‘Always Get Involved’ dimana pemimpin berekspektasi supaya follower selalu terlibat dalam aktivitas pekerjaan baik itu individual maupun tim.

Followership Habit pada Level Staff

followership2

Followership habit yang terpenting bagi responden yang ada pada level staff adalah ‘Be a Trustworthy Person’. Habit ini dipilih oleh 10.13 persen responden dan menempati ranking pertama. Artinya, staff berpikir bahwa habit terpenting yang harus mereka miliki adalah menjadi orang yang dapat dipercaya. Bagaimana caranya? Antara lain dengan menjadi orang yang dapat diandalkan dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Selanjutnya, ada dua habit yang sama-sama menghuni posisi kedua. ‘Be Willing to Take Initiative’ dan ‘Be Willing to Collaborate’ sama-sama dipilih oleh 9.34 persen responden. Follower memandang bahwa idealnya mereka bisa mengambil langkah inisiatif dan dapat menjadi seorang team player yang bisa diajak bekerjasama.

Habit yang menempati posisi ketiga adalah ‘Always Get Involved’ yang dipilih oleh 8.12 persen responden. Habit ini menuntut follower untuk selalu terlibat dalam aktivitas pekerjaan. Selanjutnya pada posisi keempat dan kelima dihuni oleh habit ‘Developable’ dan ‘Be Tough’ yang masing-masing dipilih oleh 7.97 persen dan 7.47 persen responden.

Selanjutnya, habit yang juga dianggap penting oleh follower adalah ‘Always Come on Time’ atau datang tepat waktu ke kantor, dipilih oleh 6.82 persen responden. Dan terakhir, habit ketujuh adalah ‘Support the leader’s effort’ yang artinya follower harus siap untuk memberikan dukungan bagi pemimpin, terutama dalam masa-masa yang penuh tekanan seperti dalam change process.

Perbandingan Followership Habit pada Level Manajer dan Staff

followership3followership4

Tidak banyak perbedaan berarti antara pandangan followership habit yang terpenting antara responden yang berada pada level manajerial dan staff. Baik pemimpin maupun follower sama-sama sepakat bahwa tiga followership habit yang terpenting adalah: ‘Be a Trustworthy Person’, ‘Be Willing to Take Initiatives’ dan ‘Be Willing to Collaborate’. Ketiganya menempati tiga posisi teratas sebagai habit yang dipilih oleh responden.

Sementara itu, tiga habit lainnya, yakni ‘Developable’, ‘Always Get Involved’ dan ‘Be Tough’ juga sama-sama dipilih sebagai habit ketiga hingga keenam terpenting, hanya saja rankingnya berbeda antara mereka yang berada pada level manajerial dan staf.

Perbedaan yang timbul adalah pada habit ketujuh dan kedelapan. Pada mereka yang berada pada level manajerial, memandang bahwa follower idealnya mempunyai habit‘Stay Current and Be Anticipate’ dan ‘Fix Problems as They Occur’ yang mengindikasikan bisa menjadi area improvement bagi follower.Follower diharapkan untuk terus update terhadap perkembangan terkini serta memperbarui ilmunya, juga dapat memecahkan masalah yang seketika timbul.

Sementara itu, mereka yang ada pada level staff menganggap bahwa habit yang juga penting bagi seorang follower adalah ‘Always Come on Time’ dan ‘Support the Leader’s Efforts’.

Secara total yang diharapkan baik dalam manajerial ataupun staf level ada 8 habit :  Always get involved, Lead initiatives, Collaborate, Developable, Stay current, Support the Leader’s effort, Tough, Trustworthy.

Vibiz Research Management tidak membatasi menjadi delapan habit ini saja, dalam penelitian yang dilakukan Vibiz Research Management  menemukan habit-habit yang lain yang mungkin diharapkan dari follower, ke depan bisa saja terjadi kami akan mendapati habit-habit yang lain.

Mengutip kembali Bernhard Sumbayak penemu Indonesia Leadership Model, followership dan leadership adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan , keduanya sangat terkait satu dengan yang lain, untuk menjadi ‘good leader’ harus menjadi ‘good follower’.

Dengan anda berkaca dari penelitian ini memiliki habit follower yang baik maka membuat anda akan menjadi leader yang baik.

Fadjar Ari DewantoFadjar Ari Dewanto/Managing Partner Business Advisory Vibiz Consulting/VMN/BL