Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Mencari Bentuk Ekonomi Indonesia (#2/3) : Kekuatan Pasar & Intervensi Pemerintah

ContentBL-2

Kekuatan Pasar Indonesia

Kekuatan pasar tidak begitu saja bisa diintervensi oleh kekuatan pemerintah, bahkan bila rumusan ekonomi sebuah negara yang tidak realistis terhadap kekuatan pasar maka secara lambat laun pasti akan dikalahkan oleh kekuatan pasar.

Bagi Dorodjatun, pengalaman masa lalu telah menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengabaikan pasar yang sangat berperan di dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Apalagi Indonesia adalah negara yang bisa dikatakan terbuka, 75% dari wilayahnya adalah laut dan bertetangga dengan 10 negara sehingga kemungkinan terjadinya unrecorded trade atau kita kenal dengan penyeludupan bisa saja terjadi. Tidak dapat juga diabaikan bahwa di Selat Malaka itu setiap harinya melintas 3000 kapal. Secara geografis, posisi Indonesia ini merupakan sebuah berkah bagi kita sebab dalam situasi krisis sekalipun, Indonesia tidak pernah kekurangan barang.

Perekonomian Indonesia memang tidak terlepas dari kekuatan pasar.  Bahkan  Nouriel Roubini dalam paparannya mengenai ekonomi Indonesia 2014, juga menyampaikan bahwa ada 10 kekuatan ekonomi Indonesa, beberapa diantaranya disebabkan oleh ekonomi Indonesia yang berorientasi pada pasar serta keterbukaan untuk perdagangan. (lihat : Nouriel Roubini : Kekuatan Ekonomi Indonesia Memasuki Tahun 2014). Dari paparan Roubini kita bisa simak bahwa sangatlah penting mendorong ekonomi Indonesia dengan kekuatan pasar yang dimiliki Indonesia.

Pandangan Realistis

Untuk menghadapi perkembangan perekonomian dan pergulatan yang tidak henti-hentinya antara kekuatan pasar dan kekuatan pemerintah, maka sangat penting untuk kita mempergunakan cara pandang yang realistis dalam menangani ekonomi Indonesia. Jika kita menggunakan cara pandang yang tidak realistis terhadap kekuatan pasar ini, serta didukung dengan sistem yang tidak realitis juga, maka lambat laun kita akan dikalahkan oleh pasar.

Salah satu contoh yang dapat menjadi pelajaran adalah apa yang terjadi pada masa Demokrasi Terpimpin pemerintahan Bung Karno. Pada waktu itu pemerintah berusaha mengendalikan kurs dengan menciptakan kurs sendiri. Sehingga terdapat dua kurs yang berbeda yaitu kurs yang diresmikan dan kurs yang sebenarnya berlaku di pasar sehingga tercipatlah dua kurs yang memiliki perbedaan yang cukup jauh. Kebijakan yang tidak berdasarkan kekuatan pasar ini akhirnya menimbulkan perdagangan devisa secara gelap.

Ketimpangan Global

Menurut Prof. Dr. Bambang P.S Brodjonegoro, masih ada ketimpangan secara global, bahkan perekonomian Indonesia yang terus tumbuh dan masih sangat prospektif belum bisa sepenuhnya mengadopsi pola pertumbuhan Negara maju yang sudah bisa menggunakan kekuatan institusi dan mekanisme pasar untuk memperbaiki ketimpangan dan mengurangi kemiskinan. (lihat : Prof. Dr. Bambang P.S Brodjonegoro : Ketimpangan Global dan Ketimpangan Domestik). Indonesia jelas belum mempunyai kekuatan institusi yang memadai dan mekanisme pasarnya belum pada tahap yang dianggap dapat melindungi rakyat kecil. Karenanya, Indonesia masih harus menengok kembali dasar-dasar pembangunan ekonomi yang pernah berhasil menekan kemiskinan, pengangguran, sekaligus menjaga kesinambungan pertumbuhan. Ketimpangan global nyata adanya dan jelas ditunjukkan di wilayah Asia Timur dimana perekonomian wilayah tersebut relative terkonsentrasi di wilayah metropolitan Tokyo sekitar awal tahun 2000-an, dan mungkin sekarang konsentrasinya agak menurun dengan kehadiran Shanghai dan Beijing.  Dengan kondisi seperti itu, perekonomian Indonesia perlu waspada untuk mencegah berulangnya krisis ekonomi dan sosial 1998 yang sebagian disebabkan oleh ketimpangan pendapatan masyarakat yang besar serta dilupakannya prinsip dasar pembangunan ekonomi yang mengedepankan kesejahteraan masyarakat.

Era Transisi Indonesia

Posisi Indonesia memasuki 2014 adalah posisi transisi yang memiliki harapan besar untuk masuk ke era Indonesia yang baru sebagai negara maju, Indonesia di mata dunia memiliki juga trend yang positif, dari data yang dikeluarkan oleh The 2011 International Comparison Program (ICP), yang melibatkan World Bank, Indonesia menempati urutan kesepuluh ekonomi dunia berdasarkan GDP, sehingga menentukan keseimbangan antara kekuatan pasar dan pemerintah menjadi sangat penting untuk keberhasilan ekonomi masuk ke era baru tersebut. (lihat : Fadjar Ari D : Mempersiapkan Transisi Ekonomi Pemerintahan Baru)

Dari sisi kekuatan pasar komoditi Indonesia, kekayaan komoditi ini juga sangat didikte oleh mekanisme pasar global, sehingga benturan kekuatan bukan hanya petani penghasil komoditi dan aturan pemerintah, tetapi juga kekuatan pasar global. (lihat : Bernhard Sumbayak : Prospek Komoditi Indonesia Sebagai Acuan Harga Dunia).  Kita lihat di sini bahwa pengelolaan potensi ekonomi Indonesia harus sangat memperhatikan kekuatan pasar global.

Benturan Kekuatan

Oleh karena itu para ekonom terdahulu yang telah meletakkan pondasi perekonomian bangsa telah memberikan suatu pemahaman untuk meyakinkan pemerintah agar berhati-hati terhadap pasar. Di antara kekuasaan pasar dan kekuasaan pemerintah, pasti akan terjadi pertandingan tarik menarik yang dapat diikuti dengan benturan.

Mereka yang mempercayai globalisasi akan mengatakan lebih besar peranan pasar ketimbang negara. Tetapi dari berbagai krisis yang terjadi pada hari-hari ini seperti krisis di Uni Eropa atau Subprime Mortgage di Amerika, pemerintah dipaksa turun untuk menyelamatkan negara dengan dana bailout yang mencapai triliun dollar yang diperoleh dari pajak rakyat. Padahal negara yang mengaku kapitalisme itu beranggapan bahwa sistem pasar dapat diatur hanya dengan interaksi supply dan demand. Tetapi pada kenyataannya mereka melibatkan pemerintah untuk melakukan penyelamatan.

Jadi perimbangan kekuatan pasar dan pemerintah ini perlu dipertimbangkan sebaik-baiknya dimana tidak bisa kita terlalu percaya bahwa kekuatan pasar yang berlebih itu terbaik demikian pula sebaliknya.

(Article ini adalah bagian 2 dari 3 seri pandangan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti)

Back to Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti  – Mencari Bentuk Ekonomi Indonesia

Cover Final

 

 

pak YoKristanto Nugroho
Editor in Chief Vibiz Media Network

ruth_revisi

Ruth Berliana
Editor in Chief businesslounge.co