Setangkai Kamboja Putih

Aku terdiam ketika dokter meminta maaf dan mengatakan anakku telah pergi ke pangkuan Tuhan

Anakku,satu-satunya temanku di dunia ini

Anakku tempat aku bercerita pahit dan manis kehidupan

Dia sudah pergi.

Dan sekarang aku sendirian…
Anakku pergi tanpa aku tahu kenapa dan mengapa..

Seketika saja teriakan orang mengerumuni anakku berlumuran darah..

Siapa yang menabrak anakku?

Siapa yang tega melihat anakku menggelepar bermandikan darah dan berlalu?
Tapi…sungguh benar tidak ada yang mau menolong anakku ke dokter..

Dan satu-persatu orang yang berkerumun berlalu  dengan hanya sepotong kata ” kasihan”
Lantas bagaimana ini?

Kupeluk anakku  bersimbah darah , terasa dingin membeku seperti hatiku beku tak bernyawa

Dan aku tidak punya uang sesen pun untuk mengantarnya ke dokter..
Dimana rumah sakit?  dimana kendaraan yang mengantar aku ke rumah sakit?

Bagaimana membayar rumah sakit?

Bagaimana? bagaimana? semua memenuhi pikiranku

Takut dan sedih, hancur dan tersia-sia

Semua aku tidak tahu….
Dengan berjalan kaki aku menggendong anakku

Hujan deras di malam hari kota Jakarta meluruhkan darah yang melekat pada baju dan tubuh anakku

Dan…apa yang kuterima?

Sepotong kata maaf dari dokter dan mengatakan bahwa anakku telah pergi..
Aku terdiam …

Kemana akan kubawa mayat anakku?

Kemana akan aku kuburkan mayat anakku?

Aku tunawisma, aku  hanya pendatang, aku hanya pengais rezeki di jalanan..

Aku seorang ibu yang tak berdaya..
Dokter berlalu .. dan rumah sakit senyap di waktu malam

Keheningan kamar mayat seperti mencekik batinku

Dan membunuh ragaku tak berdaya..

Dan sekarang…

Hanya aku dan mayat anakku..
Apa yang harus aku lakukan?

Kutanya anakku “anakku sayang kemana aku harus membawamu?”

Dan kau hanya diam… dan diam…

Aku menggoncang-goncangkan anakku dan kau hanya diam dan diam..
Apa yang harus  aku lakukan?

Dimana pertolongan?

Adakah sepotong tanah untuk menguburkan anakku?

Adakah sepotong tanah untuk aku dapat menziarahinya?

Jakarta menjawab ” tidak ada”

Lengkap sudah semua penderitaan dunia ditimpakan padaku..

Aku sendirian dan tidak punya siapa-siapa
Ah…kemiskinan,ketidakadilan,dan rasa persaudaraan sesama manusia yang telah lenyap..

Menghantarkanku pada sebuah keputusan yang tergila yang pernah kulakukan..

Meninggalkan mayat anakku dirumah sakit sendirian dan melemparkan setangkai kamboja putih..
Besok pagi dengan kendaraan tumpangan aku akan pulang ke desaku kembali..

Ya… sepertinya itu hal yang lebih baik

Mengais rezeki yang mungkin lebih sedikit tapi menemukan tangan-tangan yang masih ramah

Atau paling tidak, aku tidak menjadi gila..

 

Jackie Ang/VM/BL

Editor : Fanya Jodie