Smart Enterpreneur, Knowing Internal Audit !

Infog-12

(Business Lounge – Risk) – Seorang enterpreneur yang pandai, pasti paling tidak mengetahui internal audit. Hal tersebut bisa dikatakan sangat berguna, karena internal audit menolong operasi bisnis dari sang enterpreneur. Jika seorang berkata dia adalah enterpreneur namun tidak mengerti paling tidak pernah mendengar dan mempelajari internal audit, hal itu bisa berbahaya bagi operasi bisnisnya. Untuk mengetahui ulasannya lebih jelas, mari kita simak artikel dibawah ini, dan ingat, kalau Anda sudah mengerti semua ini, bersiaplah menjadi enterpreneur yang sukses dan smart.

Bisnis perbankan di Indonesia saat ini terus berkembang dengan pesat. Bank-bank pun berlomba-lomba untuk menawarkan secara agresif berbagai produk jasa perbankan kepada masyarakat, baik kelompok bisnis maupun yang terkait dengan konsumsi rumah tangga. Di antara banyak emiten di Bursa Efek Indonesia saat ini maka kelompok saham perbankan dalam sector industry keuangan termasuk saham favorit di kalangan investor karena berpotensi terus meningkat valuasinya.

Pertumbuhan perbankan dewasa ini telah berimplikasi meningkatnya persaingan di industry ini. Di tengah ketatnya persaingan dimana ada tekanan kecepatan bisnis untuk menangkap dan merebut nasabah, acapkali penyimpangan atas peraturan (deviasi) dimungkinkan. Hal tersebut menimbulkan risiko kemungkinan dilanggarnya prinsip “prudent banking” yang merupakan tradisi perbankan, yang berazas taat aturan, hati-hati, cenderung konservatif, mengutamakan keamanan dalam bisnis dan transaksi nya.

Ini memang menjadi tantangan dalam bisnis bank dewasa ini. Bagaimana untuk dapat bergerak cepat dalam menangkap dan mengembangkan peluang bisnis tanpa mengorbankan prinsip operasional yang prudent.

Penyertaan uji kepatuhan dalam transaksi maupun pengembangan produk bank terbukti cukup ampuh untuk mencegah adanya pelanggaran-pelanggaran aturan. Demikian juga penerapan aspek-aspek manajemen risiko di level transaksi dan portfolio monitoring dapat menahan pengabaian terhadap risiko, apakah itu risiko kredit, pasar, maupun operasional.

Meskipun demikian, masih sering ditemui juga adanya fraud dan pelanggaran ketentuan. Ini tidak hanya terjadi di sector perbankan dalam negeri. Coba lihat seperti di Amerika, di mana gara-gara kasus subprime mortgage dan produk turunannya, sejumlah bank besar kelas kakap sampai tumbang. Sebut saja, misalnya Washington Mutual (Wamu Bank) yang pernah menjadi commercial bank terbesar di Amerika. Dia telah tutup dan tumbang karena kasus meledaknya risiko kredit. Lehman Brothers yang selama lebih dari satu abad merupakan lembaga keuangan investment bank raksasa yang sangat terhormat pun gugur karena praktek perbankan yang disebutkan terlalu tamak.

Di mana praktek risk management di bank-bank raksasa ini kalau akhir kisahnya adalah bangkrut juga oleh isyu risiko kredit? Lapisan berikutnya untuk memastikan terlaksananya management bank yang prudent adalah internal audit. Dengan kasus-kasus kejatuhan bank yang menghebohkan tersebuit, peranan internal audit dinilai semakin memegang peranan penting.

Semakin Penting
Internal audit untuk sekitar satu dekade terakhir telah mengalami pergeseran (shifting) peranan. Dari tradisional audit yang memeriksa dan evaluasi akan keuangan, operasi dan prosedur perusahaan, menjadi lebih berbasis risiko. Disebut dengan Risk Based Internal Audit (RBIA).

Efektivitas dari internal audit yang professional telah semakin diakui. Suatu survey yang dirilis bulan Juni 2012 dengan case industry perbankan di India menunjukkan bahwa risiko fraud paling tinggi dapat ditemukan oleh internal audit, sampai porsi 53%. Ini lebih tinggi dari temuan fraud karena hasil keluhan nasabah ataupun mekanisme whistle blower, misalnya.

Pendekatan internal audit sekarang semakin aktif, selain melakukan pengawasan yang sebelum ni bersifat pasif. Institute of Internal Audit (IIA) menyebutkan definisi dari Internal Audit sebagai: “An independent, objective assurance and consulting activity designed to add value and improve an organisations operation”. Dapat diartikan secara bebas sebagai: Aktivitas perusahaan yang memastikan berjalannya proses sesuai dengan misi perusahaan serta membantu memberi kan konsultasi yang bersifat independent (bebas dari kepentingan tertentu) dan obyektif (bukan subyektif) untuk  memberikan nilai tambah dan perbaikan kepada operasi organisasi atau perusahaan.

Efektivitas pengawasan dalam aspek “fraud risk management” berdampak besar kepada keamanan asset dan proteksi financial perusahaan. Kebocoran dapat diselamatkan. Kecurangan dapat dicegah. Kesalahan proses dapat diminimumkan. Pada titik ekstrim, bahkan kebangkrutan bank dapat diselamatkan. Mungkin, kita masih ingat akan kasus Nick Leeson di Barings Bank yang menyebabkan bank berusia hampir tiga abad itu bangkrut.

Kita melihat bagaimana internal audit harus berperan lebih besar, yang pada akhirnya menolong operasi bisnis itu sendiri. Ini peran strategis dari internal audit, yaitu dipandang sebagai partner bisnis dan memberikan nilai tambah terhadap pertumbuhan bank. Ada empat dimensi yang dilihat sebagai peranan internal audit, yaitu: melakukan detection, prevention, solution and advisory. Melalui deteksi terhadap fraud misalnya, maka fraud berikut dapat dicegah secara aktif. Auditor juga dapat memberikan solusi atas permasalah bisnis dan operasi yang ada, bahkan menyediakan rekomendasi sebagai partner dari bisnis. Sungguh strategis.

Basis Risiko dan Bisnis
Tentang Risk Based Audit sendiri dipercaya lebih maju dan baik dibandingkan versi tradisionalnya. Ini karena dengan berfokus pada risiko diharapkan penyebab-penyebab dari kemungkinan kejutan risiko financial dapat diatasi, ketimbang hanya melihat catatan keuangan. Di samping itu, audit ini akan menekankan kepada kualitas informasi financial sehingga akan memperbaiki proses pelaporan ddan tentunya merupakan nilai tambah bagi operasi bank.

Dengan fokus juga kepada risiko bisnis ini diharapkan akan dapat mendongkrak kualitas dari proses bisnis itu sendiri. Dalam arti tetap berbisnis namun dengan bernuansa prudent. Dalam kendaraan, fungsi ini bukan hanya seperti rem, tetapi juga adalah fungsi kopling-nya. Di era transmisi otomatis seperti sekarang ini, sebutlah merupakan suatu fungsi rem yang cerdas karena menghindari tabrakan tetapi tetap halus pengendaliannya.

Aspek lain yang patut dicermati dengan strategi audit berbasis risiko ini adalah mutlak di sini diperlukan adanya team auditor yang berkualitas. Dia harus memiliki pengetahuan yang mumpuni sehingga layak disebut sebagai partner dari bisnis. Memiliki sudut pandang dan analisis yang tidak kalah tajam dan lihainya dengan pejabat bisnis bank. Ini tantangan tersendiri lagi. Seringkali auditor di-cap oleh orang bisnis sebagai “pengganggu”. Ujungnya mengandung arti bahwa bisnis bank pun jadi terganggu oleh team auditor ini. Era itu harus berlalu dan setidaknya segera ditinggalkan.

Pengetahuan Setara
Auditor masa depan adalah profil auditor yang memiliki kemampuan dan pengetahuan setara dengan unit bisnis yang di-audit. Laporan hasil pemeriksaan (LHP) haruslah tampil berkualitas dan professional, sehingga justru merupakan temuan yang pada gilirannya akan mem-proteksi perkembangan bisnis dan pendapatan bank agar semua berjalan pada jalur yang telah ditetapkan sesuai  visi dan misi perusahaan.

Belajar secara aktif karenanya wajib dijalani oleh para audit officer. Mengembangkan pengetahuan, menimba pengalaman dari praktisi bisnis adalah sebagian yang dapat dilakukan oleh auditor. Pengetahuan dan pengalaman berharga dari para auditor senior juga harus dikoleksi. Pengalaman adalah guru yang sangat bijak. Tetapi alangkah bijaknya bila kebijakan ini diestafetkan kepada generasi selanjutnya sehingga tidak perlu mengulang lagi pengalaman jatuh bangun itu kembali.

Untuk meningkatkan kualitas di era peranan internal audit yang diakui semakin penting maka proses pembelajaran harus diperkuat. Belajar dan belajar lagi.

Masih ingat? Because “knowledge is power”.

Alfred Pakasi /CEO Vibiz Consulting

Editor : Fanya Jodie