Masalah Terorisme Di Cina

(Business Lounge – World News) – Cina tidak seharmonis yang selalu digambarkan oleh pemerintah Beijing. Bukti terbaru dari ketidakharmonisan dapat dilihat pada kondisi provinsi Xinjiang. Pada saat waktu pulang kerja yang hiruk-pikuk tanggal 30 April lalu, dua pria menikam pejalan kaki di luar stasiun kereta Urumqi Selatan. Kedua Pelaku tersebut lantas mengaktifkan bom bunuh diri yang menewaskan seorang di antaranya, mencederai satu pelaku lain, dan melukai 79 orang. Insiden tersebut mengejutkan karena terjadi saat Presiden Cina, Xi Jinping, tengah mengunjungi kota tersebut.

Media nasional menyebut para penyerang adalah kaum separatis Muslim Uighur, golongan yang sama dengan yang membunuh 29 orang di sebuah stasiun kereta pada bulan Maret lalu. Sebelumnya, sebuah bom mobil meledak di Lapangan Tiananmen di Beijing. Tiga penumpang yang kesemuanya etnis Uighur dan dua pelancong tewas.

Informasi yang dapat dipercaya kebenarannya sulit didapat. Namun, para ekstremis yang berdiam di tengah-tengah 10 juta orang anggota etnis Uighur sepertinya bertindak kian brutal dan makin terorganisir. Selama lebih dari dua dekade, Beijing menyampaikan potensi ancaman teroris untuk membenarkan tindakan keras pemerintah atas kaum Uighur. Jika terorisme yang terorganisasi benar-benar tengah bangkit, Xinjiang kemungkinan akan terus mendapat perlakuan buruk dari paramiliter, polisi, dan pemerintah.

Beijing membutuhkan “pendekatan pukul-langsung terhadap teroris di kawasan itu,” ujar Presiden Xi sebelum melakukan lawatan ke Xinjiang. Pascaledakan Urumqi, Xi menyatakan “tindakan tegas harus diambil demi membinasakan arogansi para teroris.”

Namun, pernyataan Beijing mengenai terorisme Uighur membuat pemerintah pusat menjadi kehilangan kredibilitas–hal yang diperparah dengan kebijakan represi kebudayaan yang membuat jutaan etnis Uighur tidak puas.

Proporsi etnis Uighur di wilayah tersebut telah merosot di bawah 40%, dua kali lipat dibandingkan pada tahun 1949. Etnis Han memang banyak mengisi pos-pos pemerintah dan industri serta inisiatif pembangunan Beijing membuat etnis Han lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Sekolah “dua bahasa” menekan bahasa Uighur dan melarang para siswa beribadah di masjid atau berpuasa saat Ramadan tiba. Setelah bentrokan antaretnis menewaskan hampir 200 orang pada Juli 2009, pemerintah memangkas akses Internet ke Xinjiang selama 10 tahun.

Sejak 2009, pemerintah telah menghancurkan lebih dari dua per tiga kota tua Kashgar yang dilewati Jalur Sutra dengan dalih melindungi warga dari gempa bumi serta mempromosikan pembangunan. Warga etnis Uighur pun dipindahkan ke wilayah pinggiran, dan wilayah kota lama yang masih tersisa diperkenalkan secara komersil kepada para turis sebagai “museum hidup bangsa Uighur” yang dapat dimasuki dengan menunjukkan karcis.

Di sisi lain, Beijing mencegah etnis Uighur menyuarakan protes. Orang-orang seperti pemimpin Kongres Uighur Dunia, Rebiya Kadeer, dan profesor Minzhu University, Ilham Tohti, dianggap sebagai musuh. Jika Beijing bersungguh-sungguh dalam menangani masalah terorisme yang kian meningkat, langkah penting pertama yang harus diambil adalah memilah dengan baik mana warga Uighur yang benar-benar teroris dan mana yang bukan.

Fanny Sue/VM/BL-WSJ

Editor : Fanya Jodie

Foto : ANTARA FOTO/REUTERS/CCTV/Handout via Reuters