Ketegangan Amerika Serikat dan Rusia Masih Berlanjut

(Business Lounge – World News) – Pada bulan Desember 2011, saat Vladimir Putin masih menjabat sebagai Perdana Menteri Rusia, ia memandangi jalanan Moskow yang dipenuhi massa anti-Kremlin yang jumlahnya tercatat paling besar dalam beberapa tahun.

Vladimir Putin menjalankan peran sebagai sosok anti-Amerika. Ia berbicara di layar televisi mengenai perlakuan Amerika Serikat (AS) terhadap para sekutunya yang dianggap sebagai penguasa lokal. Menanggpi hal ini, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat berupaya mengesampingkan wacana yang digaungkan oleh Putin. Bisa dikatakan, ini bukan pertama kalinya kebijakan Amerika Serikat atas Rusia dilihat secara keliru.

Washington sudah memiliki keyakinan beberapa kali bahwa hubungan dengan Rusia telah menjauh dari ketegangan Perang Dingin, hal tersebut dimulai pada KTT bulan Juni 2001 dengan pernyataan Presiden AS George W. Bush bahwa Putin dapat dipercaya, simpati Rusia pasca serangan 11 September 2001, serta upaya untuk memperrbaiki hubungan kedua negara yang digaungkan pemerintahan Obama pada 2009.

Krisis Ukraina justru menunjukkan hal sebaliknya. Dua tahun setelah demonstrasi besar di Moskow, kebijakan AS atas Rusia telah melewati berbagai pasang-surut.

Para pejabat AS yang masih menjabat atau yang telah pensiun mengatakan kesalahan pada pemerintahan Obama adalah terlalu banyak bertaruh pada modal strategis di  jagoan yang salah, yaitu Medvedev, presiden Rusia pada 2008-2012.

Setelah merancang kebijakan atas Rusia saat negara itu masih dipimpin oleh sosok yang lebih moderat, kini AS harus berhadapan dengan Putin, mantan mata-mata badan intelijen Uni Soviet KGB yang kelihatannya berkomitmen untuk mengembalikan kejayaan Rusia.

Ketika terasa jelas bahwa Vladimir Putin berjalan menuju ke puncak kekuasaan pada tahun 2011, arah kebijakan AS memang jauh meleset dari kenyataan. Menurut para petinggi AS yang masih menjabat maupun yang telah pensiun, pemerintahan Obama kian kehilangan dukungan Rusia atas perang saudara Suriah dan kebijakan nuklir Iran.

Kini, persetujuan antara Rusia dan Ukraina yang ditandatangani di Jenewa disambut dengan keraguan oleh pemerintahan Obama.

Meskipun demikian, sejumlah pakar khawatir AS akan mengusahakan kerja sama lebih jauh dengan pemimpin Rusia yang terlihat jelas menunjukkan sikap konfrontasi.

berbeda dengan pada saat Medvedev menjabat sebagai presiden dalam masa pemerintahan pertama Obama, hubungan dengan Moskow mengarah lebih kooperatif.

Menurut sejumlah pejabat di dalam pemerintahan Obama, hasil diplomasi AS mulai terlihat. Moskow mendukung sanksi ekonomi atas Iran yang ujung-ujungnya memungkinkan pembicaraan mengenai program nuklir Teheran. Rusia membantu AS dalam pengiriman pasokan militer ke Afghanistan dan bekerja sama dalam mengurangi senjata nuklir.

“Kita tidak selalu beruntung untuk dapat memilih mitra kerja  (dalam urusan diplomasi internasional)”, kata Michael Posner, asisten menteri luar negeri AS Hillary Clinton. Menurutnya, “Rusia aktif terlibat dalam pelbagai hal yang penting bagi kami. Dengan demikian, [perbaikan hubungan dengan negeri itu] adalah pengakuan jujur [dari kami] bahwa terdapat sejumlah hal yang harus ditangani secara bersama-sama dengan mereka.”

Dalam beberapa pekan terakhir, kelihatannya indikasi pemerintahan Putin menuju ke arah kebijakan yang dapat merusak kemajuan yang telah dicapai. Moskow dikabarkan tengah membicarakan kesepakatan barter minyak Iran senilai $20 miliar yang menurut AS dapat mengacak-acak pembicaraan nuklir. Kremlin pun menyiratkan berkurangnya dukungan bagi Amerika Serikat di Afghanistan seiring dengan langkah Amerika Serikat melakukan penarikan pasukan dari negeri tersebut pada akhir tahun.

Fanny Sue/VM/BL-WSJ

Editor : Fanya Jodie

Foto : Antara