Fenomena Dibalik Perhitungan Cepat Pemilu Legislatif 2014

(Business Lounge – World News) – Hari Rabu kemarin jutaan orang berbondong-bondong datang ke tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh Indonesia. Dari DPT yang sekitar 186 juta orang diperkirakan setidaknya 75%-nya telah menjalankan hak untuk memilih sejumlah 230.000 kandidat yang akan memperebutkan 20.000 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), DPRD dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Pemilu hari Rabu ini merupakan peristiwa yang penting karena juga akan menentukan siapa yang bisa maju dalam pemilihan presiden pada bulan Juli nanti. Semua mata saat ini tertuju pada partai oposisi terbesar PDI Perjuangan yang berdasarkan quick count dari beberapa lembaga survey meraih suara terbanyak.

Dari hasil quick count yang diselenggarakan oleh CSIS-Cyrus menunjukkan PDI-P meraih 19,36 persen, berada di peringkat pertama, di bawah dari target partai sebesar 27%.

Disusul kemudian oleh Partai Golkar dengan suara sebesar 14,3%. Posisi ketiga adalah Partai Gerindra dengan perolehan suara sebesar 11,8%.  Lalu disusul berturut-turut oleh Partai Demokrat 9,6%, PKB 9,2%, PAN 7,5%.

PKS berhasil meraih 6,9% dan menempati posisi di bawah PAN. Di bawahnya PPP  dengan suara sebesar 6,7%. Kemudian disusul Partai Hanura 5,5%, PBB 1,6%, dan PKPI 1,1%.

Rilis quick count dari beberapa lembaga survey lainnya, seperti LSI, SRMC, atau media Kompas, dll juga menunjukkan angka yang kurang lebih sama. Metode ini dalam pemilu-pemilu sebelumnya terbukti cukup akurat untuk memprediksi hasil akhir pemilu. Hasil resmi perhitungan suara versi Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan diumumkan pada awal Mei.

Alfred Pakasi, Deputy Chairman dan CEO dari Vibiz Consulting menyampaikan ada beberapa fenomena politik yang terjadi  dari hasil quick count ini, sebagai berikut,

Yang pertama telihat bahwa partai favorit kali ini PDIP memang mengungguli tapi tidak mencapai angka minimum 20%. Ternyata “Jokowi Effect” tidak  terlalu berpengaruh dalam Pemilu Legislatif kali ini, kemungkinan ini disebabkan kampanye partai yang kurang efektif atau negative campaign dari partai lain yang menjadi efektif.

Berikutnya, mengenai pencapaian Golkar yang cukup tinggi, yaitu 14,3%, yang relative stabil dari hasil pemilu 2009. Ini menunjukkan bahwa sebagai partai yang paling berpengalaman telah memiliki basis massa yang cukup loyal.

Fenomena ketiga adalah dengan hasil yang dicapai oleh Gerindra yang melejit dari 4,4% di pemilu sebelumnya menjadi 11,8%, suatu kenaikan hampir tiga kali lipat. Ini merupakan partai yang paling menyerap limpahan dari partai yang sedang berkuasa saat ini. Nampaknya kampanye yang dilakukan cukup efektif dimana isinya menjanjikan akan adanya perubahan.

Bagaimana dengan pandangan dari kacamata dunia bisnis? Melihat kepada pencapaian Demokrat yang anjlok menjadi 9,6% setelah 10 tahun  berkuasa, bisa jadi ini karena isyu korupsi yang telah menerpa para petinggi partai. Nampaknya kalangan dunia bisnis menghendaki adanya perubahan, suatu pemerintah yang lebih bersih dan berorientasi kepada karya nyata. Itu pula agaknya yang mendongkrak perolehan suara pada khususnya partai PDIP dan Gerindra.

Kemarin, suatu proses demokrasi yang penting telah berlangsung dengan aman dan tertib di negeri kita. Patut kita syukuri bersama.

Arum/Journalist/VM/BL
Editor: Iin Caratri
Image: Antara