Lagi, Sky Aviation Tutup Sementara Waktu. Ada Apa Dengan Industri Penerbangan Indonesia?

(Business Lounge – Business Today) – Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA) memastikan maskapai Sky Aviation memang berhenti beroperasi untuk sementara waktu sambil menunggu investor baru. Pasalnya, Sky masih menunggu investor baru yang mau menyuntikkan dana untuk kegiatan operasional maskapai.

Disinyalir investor yang saat ini menyuntikkan dana untuk Sky menolak business plan yang diajukan manajeman Sky, sehingga Sky harus kembali mencari investor baru yang bisa menaungi bisnis dan operasional Sky Aviation.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 105 calon penumpang Sky Aviation dari Natuna tujuan Batam dan Pontianak terpaksa membatalkan keberangkatannya, karena semua penerbangan maskapai Sky Aviation di seluruh Indonesia dibatalkan. Perlu diketahui, harga tiket ke Pontianak adalah Rp 755 ribu/orang. Harga ini merupakan harga hasil subsidi Pemkab Natuna ke Sky. Sementara harga tiket ke Batam berada dalam kisaran Rp 1 juta. Untuk tiket menuju Batam telah dikembalikan oleh Sky kepada calon penumpang.

Tercatat hingga saat ini, Sky mengoperasikan tiga unit pesawat Sukhoi SSJ-100, lima unit Fokker F50, satu unit Fokker 100, satu unit Caravan, dan satu unit Cirrus SR-22. Dan meskipun berhenti sementara waktu, hingga saat ini semua pesawat milik Sky belum ada yang ditarik oleh lessor.

Isu yang merebak saat ini adalah adanya ketidakharmonisan antara pemegang saham yang sebenarnya sudah tercium oleh regulator (Kementerian Perhubungan) sejak Februari 2014 lalu. Kala itu, Dirjen Perhubungan Udara Herry Bhakti S Gumay, mengatakan bahwa Sky Aviation sulit bersaing karena tidak memiliki kecukupan modal untuk ekspansi. Upaya pengembangan oleh Sky Aviation ternyata tak didukung oleh finansial pemegang saham.

Harus dipahami bahwa Maskapai yang going concern nya tidak diragukan adalah maskapai yang dapat beroperasional dengan lebih efisien dan memiliki kondisi internal yang baik. Kondisi internal yang baik merupakan salah satu hal yang sulit diperoleh jika perusahaan tidak menjalankan prinsip tata kelola perusahaan dengan baik.

Terdengar kabar juga bahwa Komisaris Utama Sky yaitu Yusuf Ardhi. Yusuf Ardhi yang juga anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jaya dikabarkan sebagai pemilik dari Sky.

Sesungguhnya konflik antara manajemen dan pemegang saham bukanlah hal yang asing lagi di telinga. Agency Problem semacam ini sangat mungkin terjadi, terutama jika pemegang saham terbesar dominan bertumpu pada satu pihak. Harus diakui bahwa pemegang saham dan manajemen memang memiliki kepentingan yang berbeda. Manajemen cenderung lebih memprioritaskan kinerja jangka pendek sedangkan pemegang saham lebih memerhatikan kinerja jangka panjang. Tentu dari segi ini pun strategi business plan yang dirancang oleh keduanya akan berbeda.

Oleh sebab itulah dalam permasalahan yang dihadapi Sky saat ini, diharapakan dapat ditemukan solusi yang saling menguntungkan diantara kedua pihak. Tentu dengan tetap memegang prinsip bahwa manajemen adalah agent dari para pemegang saham dalam menjalankan kegiatan bisnis perusahaan secara rasional.

Stephanie Rebecca / Analyst Research at Vibiz Research/VM/BL
Editor: Iin Caratri
Foto: nusatoday.com