Sektor Industri Mobil di Eropa Mulai Khawatir Kehilangan Pangsa Pasarnya di Emerging Market

(Business Lounge – Business Today) – Sepertinya, kekhawatiran para produsen mobil di Eropa seperti Volkswagen dan Renault, mulai muncul atas kemungkinan terjadinya penurunan permintaan mobil dari Negara-negara berkembang. Pasalnya, saat ini Negara-negara yang tergabung dalam  emerging markets  telah berhasil mendorong pertumbuhan industri mobil di negaranya, terutama semenjak krisis keuangan terjadi.

Memang saat ini terlihat bahwa perekonomian Eropa mulai bangkit dari keterpurukannya, hal ini dapat dilihat dari beberapa rilis data makro ekonomi di masing-masing Negara di kawasan Eropa dimana banyak diantaranya yang mengalami pertumbuhan. Namun ternyata, pada saat yang bersamaan, beberapa produsen mobil asal Eropa khususnya justru memiliki kekhawatiran dengan melihat adanya potensi besar dari sektor industri mobil di Negara berkembang.

Hal lain yang menjadi perhatian para produsen mobil asal Eropa ini adalah konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina akan berdampak negatif terhadap sektor industri mobil di Eropa. Jaguar Land Rover misalnya, merupakan mitra dagang utama Rusia. Tentu saja dengan sedang terjadinya ketegangan antara 2 kubu tersebut akan membuat permintaan atas produksi mobil dari Rusia turun.

Selain itu, juga timbul kekhawatiran dari sektor pasar modal. Ketidakstabilan yang terjadi di Ukraina saat ini, akan berdampak terhadap perekonomian makro dunia, hal ini akan berdampak negatif terhadap pasar modal dunia. Diperkirakan jika kondisi ini tidak juga reda, kemungkinan besar para investor di sektor pasar modal akan melarikan uang mereka ke investasi safe haven, seperti emas dan obligasi pemerintah.

Meskipun kekhawatiran sedang melanda beberapa produsen mobil Eropa saat ini, ternyata masih ada juga yang tetap optimis akan eksistensi pertumbuhan penjualan mobil di Eropa ke depannya. Pasalnya, China sendiri yang merupakan Negara dengan produsen mobil terbesar ke-2 di dunia menjadi salah satu pendorong utama pulihnya perekonomian AS, karena ternyata tingkat permintaan mobil dari China ke AS masih cukup tinggi.

Stephanie Rebecca/Analyst Vibiz Research

Editor : Iin Caratri

Foto: wikimedia.org