Cina Suntikkan Dana $1,1 Miliar Untuk Peugeot

(Business Lounge – Automotive) – Kondisi Peugeot sepertinya sedang tidak baik. Saat ini, dikabarkan keluarga Peugeot telah kehilangan kendali atas bisnis otomotif yang dijalankannya. Hal itu didukung oleh berita bahwa Dongfeng Motor Group, Cina, akan menyuntikkan dana kepada salah satu produsen kendaraan tertua dunia tersebut.

Dewan direksi PSA Peugeot Citroën menyetujui kesepakatan penyuntikan modal sebesar $4,09 miliar yang akan menjadikan Dongfeng sebagai salah satu pemegang saham terbesar. Dongfeng menyatakan akan berkontribusi sebesar $1,1 miliar.

Sepertinya, kesepakatan bisnis itu telah mengakhiri lebih dari dua abad penguasaan keluarga Peugeot atas usaha yang dibangun pada masa awal revolusi industri dan berhasil melewati dua perang dunia. Tetapi, pada ujungnya, ternyata mereka terbukti tak sanggup untuk cukup cepat beradaptasi dalam dunia otomotif yang tumbuh kian pesat.

Faktanya, kini Peugeot tertinggal dari pesaing seperti Volkswagen, yang berusaha menjangkau pasar internasional. Ketimbang membangun kerjasama, keluarga Peugot dalam beberapa tahun terakhir melakukan buyback miliaran lembar saham demi memiliki kendali suara. Peugeot, contohnya, menolak aliansi lebih serius dengan perusahaan seperti Mitsubishi Motors dan BMW AG, ujar sejumlah sumber.

Kalau melihat riwayat di dunia otomotif, Dongfeng adalah pendatang baru di industri otomotif dibandingkan Peugeot. Dongfeng sendiri di luar negaranya hanya dikenal sebagai produsen truk berat. Namun, pabrikan otomotif kedua terbesar Cina itu memiliki ambisi besar untuk menguasai pasar global.

Biasanya, sebagian besar mobil Dongfeng dibuat bersama mitra seperti Nissan Motor dan Honda Motor. Berdasarkan keterangan Bernstein Research, mobil bermerek Dongfeng menyumbang seperdelapan total penjualan mobil penumpangnya.

Sepertinya, kelihatannya kemitraan baru itu akan menghadapi tantangan besar. Tantangan itu adalah kesepakatan tersebut takkan langsung berdampak pada problem Peugeot, dimana pabrik-pabrik mereka beroperasi jauh di bawah potensi tingkat produksi menyusul rendahnya permintaan.

Jika dianalisa, sepertinya mengoperasikan perusahaan dengan tiga pemegang saham yang posisinya sejajar bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, terdapat kendala bahasa dan komitmen pemegang saham kepada pemerintah Prancis dan Cina.

Meski kini para pemilik saham baru setuju bahwa Thierry Peugeot tak lagi mengepalai dewan direksi, penggantiannya belum mencapai konsensus.

“Mereka sepertinya akan memiliki harapan berbeda,” ujar Nicolas Meilhan, konsultan riset pasar Frost & Sullivan di Paris. “[Kepemilikan tiga pihak] akan menyulitkan pengambilan keputusan.”

Bagaimana masa depan dan potensi bisnis Peugeot berikutnya? Kita tunggu saja perkembangannya.

(FJ/FJ/BL-WSJ)

Foto : WSJ