Good to be Fun?

Good to be Fun?

– Your brand is your culture

(Business Lounge –  Leadership) – Di negeri Barat, sudah banyak perusahaan yang menerapkan budaya organisasi yang fun, dimana lingkungan kerja menyenangkan dan cara kerjanya tidak biasa. Hanya segelintir perusahaan yang menerapkan hal ini, karena tidak semuanya bisa melakukannya dengan baik.

Berikut ini adalah dua contoh sukses yakni Southwest dan ritel Best Buy. Southwest Salah satu kunci kesuksesan Southwest adalah dari budaya organisasinya yang fun. Southwest yang didirikan oleh Herb Kelleher pada tahun 1971, punya gaya manajemen yang berfokus kepada bagaimana menciptakan SDM di perusahaan merasa bahagia. Sehingga, dengan begitu maka mereka akan menghasilkan produktivitas yang maksimal. Menurut Kelleher, terdapat suatu hubungan positif antara bersenang-senang dengan produktivitas. Karena, jika karyawan memahami bahwa bersenang-senang dalam bekerja adalah hal yang dibolehkan, maka hal tersebut akan dapat meningkatkan produktivitas karyawan.

Karyawan-karyawan Southwest jumlahnya cenderung ramping, hanya saja mereka menganut konsep `work hard` dan `play hard`, dimana karyawan tahu benar apa saja resep yang dibutuhkan untuk membawa Southwest sukses. Meskipun kerja dengan bersenang-senang, namun mereka tetap bekerja keras Kuncinya adalah dengan menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan.  Dengan kondisi demikian, maka ini akan memunculkan energi yang positif di lingkungan kerja, sehingga karyawan jadi lebih produktif.

Best Buy punya cara kerja yang unik, yakni `Result-Only Work Environment` (ROWE) dimana mereka hanya mementingkan hasil, hasil dan hasil. Biasanya, perusahaan lain berfokus pada cara kerja, bukan hanya hasil.

Pada perusahaan lain, cara kerja yang tidak biasa tentunya tidak disukai. Berbeda dengan ROWE, dimana karyawan boleh melakukan apapun yang diinginkannya, asalkan pekerjaan mereka selesai dan hasilnya bagus. Pada perusahaan yang umum, karyawan terikat dengan banyak peraturan, sehingga mereka tidak leluasa. ROWE menentang ini, karena peraturan ini dan itu, serta kontrol yang ada dianggap mengakibatkan karyawan tertekan, sehingga memicu demotivasi dan produktivitasnya rendah.

Dalam ROWE, karyawan dapat menentukan apa yang dianggapnya baik untuk dirinya sendiri. Fokus terhadap hasil, bukan hanya cara kerja dan dedikasi seseorang yang tampak dari luarnya saja. ROWE mengizinkan karyawan untuk mengatur cara kerja yang paling nyaman dan terbaik baginya, sehingga hasilnya juga maksimal. Misalnya, pada perusahaan pada umumnya karyawan dinilai baik dan buruknya ketika mereka datang tepat waktu dan pulang larut. Padahal hasilnya belum tentu ada. Sementara karyawan yang datang terlambat dinilai buruk, padahal hasil pekerjaannya bagus. ROWE tidak demikian, karena jika pekerjaan karyawan selesai, maka hanya itulah yang penting, tidak peduli dia datang terlambat, pulang lebih cepat atau menyelesaikan pekerjaannya di tempat lain.

Implikasinya adalah lingkungan kerja yang menyenangkan, karena karyawan diberikan kebebasan untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan cara yang dianggapnya terbaik. Dengan memberikan kebebasan, maka ini memberikan kondisi lingkungan kerja yang positif, sehingga ROWE percaya bahwa produktivitas karyawan akan lebih tinggi.

(ic/ic/bl)

Foto: startribune.com