(Business Lounge – World News) Shutdown atau penutupan sejumlah besar layanan pemerintah akibat kisruh penyusunan anggaran yang pertama dalam 17 tahun ini mulai mengusik layanan di berbagai kawasan AS. Dampaknya akan semakin besar jika penutupan ini tak juga usai. Penutupan layanan di sebagian kantor pemerintah AS menyebabkan lebih dari 800 ribu pegawai negeri terpaksa cuti tak berbayar.

Para pebisnis dan investor di Amerika Serikat (AS) terus memantau government shutdown ini. Tetapi para investor lebih mewaspadai potensi sengketa soal kenaikan tingkat pinjaman federal. Kekacauan dalam pembahasan ini dianggap sebagai ancaman utama terhadap pasar dan perekonomian.

Namun, investor menghadapi kebuntuan ini dengan tenang, karena debat anggaran di parlemen AS biasanya cepat menemui penyelesaian. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 62 poin atau 0,4% menjadi 15.191,70, mengimbangi separuh kemerosotan pada Senin.

Jika ditelisik dari pengalaman sebelumnya, shutdown diperkirakan hanya sedikit mengusik keseluruhan perekonomian AS. Para ekonom di J.P. Morgan Chase pada Selasa memperkirakan shutdown bakal mengurangi laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV sebesar 0,12 poin persen. Pelemahan itu disebabkan upah pegawai kantor pemerintah yang berkurang. Angka perkiraan itu tak memperhitungkan efek pada sektor swasta atau pelemahan kepercayaan konsumen.

Pasar dan perekonomian AS lebih mencemaskan risiko yang lebih besar. Jika pertarungan di dewan legislatif soal shutdown terus berlarut, parlemen AS kemungkinan akan menemui kebuntuan dalam pembahasan kenaikan plafon pinjaman pemerintah, yang tepatnya pada pertengahan Oktober.

Kantor Anggaran Kongres menyatakan pemerintah AS akan mulai menunggak tagihan pada akhir Oktober. Kecuali, Kongres menaikkan batas pinjaman. Plafon utang pemerintah AS, yang berada di $16,7 triliun, sudah tercapai pada Mei. Sejak saat itu, pemerintah menggunakan kebijakan darurat untuk menghemat uang.

Tanpa penambahan plafon utang, pemerintah AS bisa kehabisan uang tunai guna membayar semua tanggung jawabnya—termasuk tagihan Jaminan Sosial, pembayaran gaji militer, serta bunga utang. Menurut analis, penunggakan ini mampu menyebabkan gejolak keuangan yang parah.

(Iin Caratri/IC/BL-WSJ)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.