Sejarah Quality Management (TQM)

(Business Lounge – Quality) Sebelum adanya konsep mengenai TQM, inspeksi dilakukan dengan mengambil keputusan menerima atau menolak suatu barang. Namun, seiring dengan makin berkembangnya bisnis, maka inspeksi menjadi suatu pekerjaan yang khusus.

Dalam proses produksi, sering terjadi masalah-masalah seperti: masalah teknis, inspector yang kurang terlatih, inspector diperintah untuk menerima barang defect untuk meningkatkan output, serta berkurangnya tenaga yang terlatih.

Perubahan ini mendorong lahirnya bagian inspeksi khusus yang melaporkan kepada orang yang bertanggungjawab terhadap proses produksi. Selanjutnya, disadari bahwa tanggung jawab dari chief inspector adalah lebih dari sekedar menerima produk melainkan mencegah terjadinya defect. Maka kemudian muncullah bagian quality control khusus yang bertanggung jawab terhadap inspeksi dan kontrol akan kualitas.

Pada tahun 1920, teori statistik mulai diaplikasikan secara efektif kedalam quality control dan pada 1924 Shewhart membuat sketsa pertama modern control chart. Setelah itu, karyanya dikembangkan oleh Deming dan karya-karya dari Shewhart, Deming, Dodge dan Romig-lah yang sekarang lebih dikenal dengan teori statistical process control (SPC). Namun, hingga akhir 40-an teknik ini hanya sedikit digunakan oleh perusahaan manufaktur.

Saat itu, perindustrian Jepang sedang hancur dan memiliki reputasi akan barang murah imitasi dan angkatan kerja yang buta huruf. Jepang menyadari hal ini dan berusaha membenahinya dengan pertolongan para pakar kualitas yaitu Juran, Deming dan Feigenbaum.

Kemudian pada awal 1950, praktek manajemen kualitas berkembang dengan sangat cepat di perusahaan-perusahaan Jepang dan menjadi suatu tema utama dalam filosofi manajemen Jepang, sehingga pada 1960, manajemen kualitas dan kontrol akan kualitas telah menjadi suatu yang membudaya secara nasional.

Pada akhir 1960/awal 1970, impor Jepang ke Amerika Serikat dan Eropa meningkat secara signifikan, karena produk-produknya yang lebih murah dan berkualitas lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara Barat.

Lalu pada 1969, di Tokyo digelar konferensi internasional pertama mengenai quality control yang disponsori oleh Jepang, Amerika dan Eropa. Saat itu Fegenbaum memperkenalkan istilah ”total quality” untuk pertama kalinya. Ishikawa juga menjelaskan bagaimana perbedaan aplikasi total quality control di Jepang, yang berarti ”company wide quality control” dimana seluruh karyawan dari top management hingga pekerjanya harus mempelajari dan turut berpartisipasi dalam quality control. Company wide quality management sangatlah umum di Jepang pada akhir 70-an.

Revolusi kualitas di Barat berjalan lambat dan tidak mulai hingga awal 1980, ketika perusahaan memperkenalkan program-program yang mendorong peningkatan kualitas untuk mengikuti sukses Jepang. Total Quality Management menjadi pendorong utama dalam kasus ini.

Pada tahun 1982, pasar finansial di Inggris anjlok dan berakibat buruk terhadap standar kehidupan di negara tersebut. Saat itu terdapat kompetisi global yang ketat dan kinerja keuangan serta reputasi mengenai kualitas suatu negara tergantung pada reputasi serta kinerja dari barang-barang dan jasanya.

Sejak itu, sistem kualitas British Standard (BS) dipublikasikan pada 1979 dan pada 1983 diluncurkanlah National Quality Campaign dengan BS5750 sebagai tema utamanya. Tujuannya adalah untuk mengedepankan pentingnya kualitas sebagai cara untuk bertahan dalam kompetisi di dunia.

Sejak itu, International Standard Organization (ISO) 9000 telah menjadi standar yang diterima internasional untuk sistem manajemen kualitas. ISO 9000 diawasi oleh ISO, organisasi internasional di bidang standarisasi, dan dikelola oleh badan-badan akreditasi dan sertifikasi. Sertifikasi terhadap salah satu ISO 9000 standar tidak menjamin kualitas dari barang dan jasa yang dihasilkan melainkan hanya menyatakan bahwa terdapat proses yang berkualitas dan konsisten yang dijalankan di organisasi/perusahaan tersebut.

Kemudian memasuki abad ke-21, Total Quality Management sekarang merupakan lebih dari sekedar konsep yang berkaitan dengan kinerja organisasi dan mengedepankan pentingnya proses.

TQM telah dikembangkan di banyak negara dengan tujuan membantu organisasi untuk mencapai kinerja yang sempurna, terutama dalam memberikan kepuasan pelanggan dan meningkatkan profitabilitas.

(Palimirma/IC/BL-MD)