Hilton Rencana Luncurkan Hotel di Indonesia

(Business Lounge – Business Today) – Dengan meningkatnya bisnis pariwisata dan travel di Indonesia, hal ini kembali menarik investor besar. Kali ini Hilton Worldwide, grup perhotelan internasional berbasis Amerika Serikat (AS), berencana meluncurkan hotel tarif menengah dan premium di Indonesia.

Hilton Worldwide — dimiliki perusahaan private equity Blackstone Group — belum banyak berkiprah di tanah air. Hingga kini hanya dua hotel Hilton yang beroperasi di Indonesia, yakni Conrad Bali dan Hilton Bandung. Namun, Hilton melihat peluang dalam segmen pasar menengah bagi pelawat bisnis dalam negeri.

conrad

“Di kawasan Asia Tenggara, pasar yang betul-betul kami anggap kunci adalah Indonesia,” kata Presiden Hilton Asia-Pacific Martin Rinck.

Di Indonesia “semakin banyak orang yang masuk lapangan pekerjaan, [disertai] penguatan urbanisasi dan peningkatan pendapatan,” ujar Rinck. Semua hal ini menciptakan “potensi besar” dalam bisnis travel domestik, tegasnya.

Untuk menyerap keuntungan besar, Hilton berencana membawa merek hotel mewah Waldorf Astoria dan brand hotel untuk pasar menengah Hilton Garden Inn ke Indonesia. Rinck mengungkap perusahaannya akan segera membuka hotel full-service di Jakarta di bawah merek pasar menengah Double Tree. Selain itu, Hilton juga masih mempelajari “satu atau dua” aset lain.

Hilton mengoperasikan sekitar empat ribu hotel di seluruh dunia. Menurut Rinck, sebagian besar pertumbuhan Hilton disumbang Hilton Garden Inn, jaringan perhotelan global yang terdiri atas lebih dari 500 hotel tarif menengah untuk pebisnis domestik.

Meski begitu, “masih ada peluang dalam segmen mewah … Tak ada alasan mengapa kami tak membuka Conrad di Jakarta,” sahutnya. Rinck menambahkan, Hilton masih melakukan kajian pembukaan hotel di lokasi lain, seperti Bandung, Surabaya, dan Bali.

Rinck tak memperinci jumlah properti baru berikut biaya investasinya. Namun, katanya, mayoritas ekspansi Hilton di Asia Pasifik dilakukan melalui sistem sewa manajemen (management lease), ketimbang membangun aset baru atau membeli hotel yang sudah ada.

(IC/IC/BL-WSJ)