Asia Pesta Utang; Indonesia Masih Cukup Aman

(Business Lounge – Finance) – Krisis moneter yang menimpa kawasan Asia pada tahun 1998 yang lalu memaksa sejumlah negara berutang cukup besar untuk menyelamatakan diri. Dampak dari utang tersebut terasa di berbagai sektor di mana saat itu pemerintah berbagai negara Asia yang terkena krisis terpaksa mengikuti persyaratan para pemberi utang dengan melakukan pengetatan anggaran pemerintah.

Setelah bertahun-tahun menghindari kredit usai krisis keuangan tahun 1990-an, Asia kini kembali berutang guna meningkatkan pertumbuhan. Tren ini sangat kontras dengan upaya pengurangan utang di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Beberapa ekonom kini semakin khawatir bertambahnya utang Asia ini dapat menghambat pertumbuhan di beberapa negara yang sedang berkembang pesat, atau bahkan kembali memicu krisis.

Beban utang di negara berkembang Asia, diukur dari persentase utang negara dan swasta atas produk domestik bruto (PDB), kini melebihi tingkat utang Asia era krisis finansial 1997. Peningkatan utang ini terjadi dalam empat tahun terakhir. Rasio utang atas PDB naik menjadi 155% pada pertengahan 2012 dari 133% pada 2008.

Indonesia Ikutan Terjegal

Setelah merilis data utang pemerintah hingga bulan April lalu, banyak kritik pedas dialamatkan kepada pemerintah Indonesia. Memang utang Indonesia dari segi jumlah terus membengkak. Hingga April 2013, utang pemerintah Indonesia bertambah Rp 48 triliun menjadi Rp 2.023,72 triliun, dibandingkan posisi akhir 2012 Rp 1.975,42 triliun.

Jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah hingga Maret 2013 mencapai US$ 208,16 miliar, naik dari posisi di akhir 2012 yang mencapai US$ 204,28 miliar. Utang pemerintah di April 2013 tersebut terdiri dari pinjaman Rp 581,49 triliun, menurun dibanding akhir 2012 Rp 614,32 triliun. Kemudian berupa surat berharga Rp 1.442,23 triliun, atau naik dibanding 2012 sebesar Rp 1.361,1 triliun.

Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 8.241,9 triliun, maka rasio utang Indonesia hingga April 2013 adalah sebesar 24%. Pada kenyataannya, rasio utang terhadap PDB kita justru mengalami penurunan secara gradual. Pada tahun 2012 lalu rasio utang terhadap PDB berada di level 27.3%, dengan rasio April di 24%, terjadi penurunan sebesar 3.3%.

Akan tetapi meskipun secara rasio terhadap PDB mengalami penurunan, tetap saja utang yang terus meningkat ini dinilai membahayakan bagi ekonomi Indonesia.

Cina Jauh Lebih Buruk

Jika dibandingkan dengan Cina, memang Indonesia tampaknya tidak terlalu jelek posisi utangnya. Cina, ekonomi terbesar kedua di dunia, mengalami kenaikan rasio utang terhadap PDB. Tercatat rasio utang Cina naik ke 183% pada pertengahan 2012 dari 153% pada 2008.

Lonjakan pinjaman oleh perusahaan negara dan pemerintah daerah Cina membuat ekonom dan pejabat pemerintah negara itu cemas. Mereka khawatir akan potensi gagal bayar serta kelambanan pertumbuhan yang kian parah akibat utang. Masalah ekonomi di Cina dapat merambat ke negara tetangganya di Asia dan benua lain.

Bank dan pasar kredit di Asia kini lebih berkembang ketimbang pada 1990-an. Ekonom yakin perkembangan ini memungkinkan negara lebih banyak berutang tanpa menghambat pertumbuhan. Jika digunakan dengan baik, kredit dapat membantu sebuah negara berinvestasi dalam pabrik, jalan, dan infrastruktur lainnya yang berpengaruh atas pertumbuhan ekonomi.

(IA/IC/BL-VBN)