Hati – Hati, Awasi Mutu Daging Ayam yang Anda Makan!

(Business Lounge – Service&CRM), Nyum….siapa yang tidak suka dengan daging ayam? Begitu banyak restoran , rumah makan, warung tenda, bahkan resep masakan menggunakan daging ayam. Namun, tahukah Anda akan bahaya-bahaya yang dapat mengancam kita melalui daging ayam yang kita makan? Salah satunya adalah bakteri pathogen seperti Salmonella yang dapat menyerang kita melalui daging ayam. Selain itu, ternyata ada pula bahaya lainnya yaitu adanya residu antibiotic di dalam daging ayam yang kita makan. Kira-kira dari mana dan bagaimana menghindari bahaya ini ?

Ternyata, peternak ayam biasa menggunakan antibiotic yaitu suatu senyawa kimia yang digunakan dengan tujuan menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen yang ada dalam tubuh ayam. Penggunaan antibiotik juga dapat membantu proses metabolisme yang ada dalam tubuh, sehingga sari-sari makanan dapat terserap dan difungsikan dengan baik. Oleh karena itu, tak jarang saat ini selain digunakan sebagai pengobatan, antibiotik juga ditambahkan dalam pakan ternak dengan tujuan untuk mempercepat pertumbuhan ternak, khususnya ayam.

Keberadaan antibiotik ditengah-tengah masyarakat peternak sudah tidak diragukan lagi, hampir semua produk pakan yang diberikan ke ayam mengandung antibiotik. Dengan mengkonsumsi pakan yang diberi tambahan antibiotik, pertumbuhan mikroorganisme patogen terutama pada saluran pecernaan ayam akan terhambat dan tentu saja akan berpengaruh pada tingkat pertumbuhan ayam yang meningkat. Hal ini tentu saja menguntungkan peternak karena ayamnya gemuk dan konsumen pun senang.

Akan tetapi, penggunaan antibiotik dapat berakibat buruk dikarenakan dapat menyebabkan adanya residu antibiotik dalam daging. Bahaya residu dapat menjadi permasalahan yang serius, apalagi jika masuk ke dalam tubuh konsumen (manusia). Residu antibiotik sendiri dapat memberikan efek karsinogenik dan dalam jangka panjang dapat berakibat fatal.

Penggunaan antibiotic pada pakan ayam akan menyebabkan ayam terus-menerus terekspose obat hewan hampir sepanjang hidupnya, sehingga produk yang dihasilkan kemungkinan besar masih mengandung residu obat, terutama apabila dosis obat dan waktu hentinya tidak dipatuhi.

Lalu, apakah yang harus dilakukan agar bahaya tersebut tidak sampai kepada konsumen, yaitu kita?

Pemakaian antibiotik dan obat hewan yang tergolong obat keras perlu memperhatikan waktu henti. Setelah waktu henti terlampaui diharapkan residu tidak ditemukan lagi atau telah berada di bawah BMR sehingga produk ternak aman dikonsumsi.
Tidak dipatuhinya waktu henti obat kemungkinan disebabkan :
1) bahaya residu anti-biotik pada pangan asal ternak belum dipahami,
2) peternak belum mengetahuiwaktu henti obat setelah pemakaian antibiotik, dan
3) banyak perusahaan obat hewan tidak mencantumkan waktu henti obat dan tanda peringatan khusus.
Beberapa pabrik pakan telah melakukan uji mutu bahan baku pakan dan pakan komersial yang diproduksinya. Pemeriksaan dilakukan terhadap bau, ketengikan, jamur, serta kandungan aflatoksin.

Sebagian pabrik pakan (50%) juga memeriksa cemaran mikroba patogen. Selain cemaran aflatoksin, logam berat, dan mikroba, juga ditemukan senyawa obat-obatan seperti golongan antibiotik, koksidiostat, dan antijamur yang secara sengaja dicampur ke dalam pakan (ransum) untuk tujuan tertentu seperti sebagai pemacu pertumbuhan.
Hampir semua pakan komersial (85,70%) mengandung antibiotik, 50% mengandung koksidiostat, dan 33,30% mengandung obat antijamur. Hal ini mempertegas bahwa peluang adanya residu antibiotik dan obat-obatan lainnya pada daging dan telur ayam semakin besar.

Dengan adanya penggunaan antibiotic ini dalam pemeliharaan ternak ayam, sebagai akibatnya bakteri malah akan bertambah kuat dan resistensi pada obat jadi lebih besar. Tentunya penggunaan obat antibiotik secara berlebihan akan membuat bakteri makin kuat dan proses penyembuhan makin sulit.

Kesadaran sedini mungkin akan bahaya residu antibiotik dalam produk pangan asal ternak dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi resiko konsumen terpapar residu dalam produk pangan yang telah dikonsumsi. Tak hanya pemerintah yang harus terjun memberantas permasalahan klasik yang makin menjamur di masyarakat dewasa ini. Tapi, segenap masyarakat umum sebagai konsumen, peternak dan produsen pakan ternak juga turut bertanggung jawab untuk menanggulangi pencemaran residu antibiotik dalam produk pangan asal ternak, khususnya ayam.

Sedikit demi sedikit kita dapat memulai untuk menekan kadar antibiotik dalam pakan. Peternak-peternak ayam pun dapat mulai membenahi sistem manajemen pakan dan kandang untuk meminimalisir terjadinya infeksi mikroorganisme sehingga tidak perlu membutuhkan tambahan antibiotik. Manajemen penggunaan antibiotik yang tepat juga dapat mengurangi resiko terdapatnya residu antibiotik dalam produk pangan.

Sebagai konsumen, hindari membeli daging ayam yang menggunakan antibiotik, atau masak secara menyeluruh daging ayam pada suhu 165 derajat hingga matang untuk mengurangi risiko.

Telitilah sebelum membeli makanan Anda ya!

(Fanny/IK/BL)