(Business Lounge – Finance) – Bicara tentang Financial Planner atau ilmu Perencanaan Keuangan, belakangan ini keliatannya mulai ramai, meskipun sebenarnya di Indonesia sudah ada sejak awal tahun 2000-an.

Tidak bisa dipungkiri, suku bunga Sertifikat Bank Indonesia yang bertahan sangat rendah, sementara banyak masyarakat yang kemudian mencari alternatif investasi lain yang memberikan hasil investasi atau ‘bunga’ yang relatif lebih tinggi. Salah satu dari produk-produk keuangan lainnya diluar produk perbankan yang ditawarkan melalui Bank adalah reksa dana dan produk pasar modal lain yang mengacu pada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Penawarkan produk investasi jenis ini jelas akan berbeda dengan produk perbankan tradisional.

Dengan maraknya institusi keuangan seperti perbankan menawarkan yang disebut dengan ‘supermarket reksa dana’, adanya divisi priority banking dan sekarang lebih canggih lagi disebut dengan Wealth Management dan dengan semakin banyaknya produk yang ditawarkan seorang banker akan dituntut untuk dapat bertindak sebagai seorang konsultan atau advisor. Pertanyaannya adalah apakah Banker kita sudah menjadi seorang konsultan/advisor atau lebih dikenal dengan Perencana Keuangan? Ataukah mereka hanya menjadi Product Planner alias orang yang menawarkan dan menjual produk keuangan karena target perusahaan? Terbukti dengan adanya kasus salah satu Bank Asing kemarin membuat kita terbelalak bahwa ternyata dana nasabah seluruhnya aman.

Diluar dari IHSG dan Reksa Dana kita melihat perkembangan industri asuransi khususnya asuransi jiwa di Indonesia sangat menakjubkan. Jumlah agen asuransi yang terdaftar yang berkembang sangat pesat dirasa masih kurang untuk memberikan jasa layanan kepada lebih dari 230 juta penduduk Indonesia. Seiring dengan diperkenalkan produk asuransi UnitLink maka masyarakat di Indonesia mulai merasakan pentingnya arti perlindungan asuransi sambil ber-investasi, meskipun ada akhirnya banyak yang ‘terlambat’ menyadari bahwa ternyata ber-investasi diproduk unitlink tidak maksimal. Produk asuransipun juga kemudian ikut-ikutan dijual melalui pintu perbankan yang dikenal dengan istilah keren Bancassurance.

Ilmu keuangan yang berkembang serta produk-produk seperti disebutkan diatas yang kemudian dapat ‘mengaburkan’ batas antara produk pasar uang atau perbankan dan produk pasar modal. Oleh sebab itu, seyogyanya seseorang yang menawarkan kombinasi dari produk-produk tersebut mengerti maksud dan tujuan dari penggunaan masing-masing produk sehingga tidak terjadi kesalahan dalam berinvestasi.

Di Indonesia profesi Perencana Keuangan banyak disalahartikan dengan profesi seorang agen asuransi jiwa yang menawarkan produk asuransi. Profesi ini juga di ‘kabur’ kan dengan istilah Private Banking atau Priority Banking atau yang lebih gagah lagi Wealth Management di Perbankan.

Bagaimana kita menilai dan membedakan seseorang yang menawarkan produk keuangan kepada kita sebagai seorang konsultan yang memang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menilai dan melihat produk yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan kita?

Hal pertama yang paling mudah adalah dengan melihat apakah orang tersebut memiliki kemampuan untuk memberikan suatu analisa kebutuhan keuangan. Secara kasat mata Perencana Keuangan profesional telah melalui suatu proses untuk mendapatkan dan mengasah ilmu perencanaan keuangan mereka. Hal ini bisa dilihat dari gelar profesional keuangan yang telah dimiliki. Gelar Profesional saja juga tidak cukup. Apabila seseorang memberikan informasi (mungkin juga merekomendasikan) tentang suatu produk (biasanya investasi) merekapun harus juga mempunya izin (lisensi) produk tersebut.

Akan tetapi kita sebagai konsumen juga tetap harus berhati-hati. Ada gelar yang hanya diakui oleh standard lokal ada juga yang diakui secara luas dan international. Cara paling mudah adalah dengan mengecek gelar tersebut ke kantor pusat dari asosiasi yang mengeluarkan gelar tersebut apakah memang diakui secara International.

Kemudian kita juga harus berhati-hati untuk dapat membedakan antara yang disebut dengan Financial Planner dan Produk Planner. Seorang Financial Planner atau perencana keuangan akan memberikan proses dan solusi keuangan dengan mengetahui kebutuhan keuangan nasabahnya. Sementara, seorang Produk Planner akan menyodorkan produk dan mengatakan bahwa satu produk ini dapat berguna untuk menyelesaikan semua permasalahan nasabah tanpa mengetahui apa inti dari permasalahan keuangan nya.

Endah caratri, editor Vibizmanagement, juga menambahkan bahwa perlu diperhatikan bahwa banyak orang seringkali tidak tahu apa yang menjadi tujuan financial, mereka hanya berpikir tujuan financial adalah untuk investasi atau tabungan, untuk memperoleh uang. Padahal investasi, tabungan dan uang adalah hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan financial, sehingga perlu sekali bagaimana seseorang merencanakan keuangannya untuk memenuhi kebutuhan masa depannya misalnya dana darurat, dana pendidikan anak, dana pensiun, dana kesehatan, dan lainnya. Mereka perlu merencanakan keuangannya dengan baik untuk mendapatkan masa depan yang terbaik. Dalam hal ini fungsi seorang financial planner sangat penting dalam membantu kita melakukan perencanaan keuangan.

Sehingga hal terakhir yang harus dilakukan adalah dengan menggunakan jasa seorang Perencana Keuangan. Carilah Perencana Keuangan yang berpengalaman dalam mengerjakan kasus, memiliki jam terbang yang cukup tinggi, telah melalui pendidikan dan bersertifikasi saja tidak cukup. Banyak dari tenaga penjual atau sales produk keuangan yang sekarang mengaku-ngaku sebagai seorang perencana keuangan. Oleh sebab itu selalu berhati-hati dan waspadalah.

(Ic/IC/vbm,dtc)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.