Risiko Radiasi Nuklir dan Mitigasinya

(The Manager’s Lounge, Risk Management) Berapa total kerugian yang ditimbulkan akibat gempa dan tsunami di Jepang yang terjadi pada hari Jum’at (11 Maret 2011) yang merupakan bencana terburuk dalam kurun waktu 140 tahun terakhir ? Pemerintah Jepang minggu lalu memperkirakan dampak ekonomi dari gempa dan tsunami itu ‘cukup besar’. Bencana alam tersebut juga telah merusakkan fasilitas di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sehingga menimbulkan krisis nuklir. Perdana Menteri Jepang Naoto Kan mengatakan, krisis tersebut merupakan yang terburuk sejak perang dunia II.

Melihat kerusakan yang ada, diperkirakan menelan kerugian hingga US$ 100 miliar atau sekitar Rp 900 triliun. Angka itu mencapai 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang.

Estimasi itu dibuat oleh DBS Bank, seperti dilansir dari AFP, Selasa (15/3/2011). Proyeksi lebih besar sebelumnya disampaikan oleh Credit Suisse yang memperkirakan angka kerugian sebesar US$ 171 miliar atau sekitar Rp 1.500 triliun.

Ia mengakui, saat ini memang terlalu dini membuat angka kerugian akibat gempa dan tsunami Jepang.

Risiko Radiasi Nuklir

Terlepas dari dampak yang ditimbulkan oleh gempa bumi dan tsunami yang menimbulkan penderitaan bagi Jepang dan negara-negara lainnya, maka ada satu risiko yang menjadi momok yang menakutkan bagi seluruh dunia, yaitu radiasi nuklir akibat meledaknya reaktor nuklir di PLTN Fukushima Daiichi, Jepang.

Jepang memiliki setidaknya 55 pusat pembangkit nuklir yang aktif beroperasi. Mengaku sebagai negara yang miskin sumber daya alam, seperti sumber batu bara, gas alam dan uranium, Jepang menggantungkan diri pada nuklir untuk memenuhi sepertiga kebutuhan listrik mereka.

Pada 12 Maret 2011, reaktor nuklir nomor 1 di PLTN Jepang meledak. Pada 13 Maret 2011, reaktor nuklir nomor 4 meledak disusul reaktor nuklir nomor 3 pada 14 Maret 2011.

Lalu, pada 15 Maret 2011, sebuah ledakan baru kembali terjadi di reaktor nomor 2 PLTN Fukushima Daiichi setelah sempat dicoba untuk distabilkan pasca ledakan serupa yang menimpa reaktor lainnya dalam empat hari terakhir.

Mengapa reaktor ini meledak ? Adanya reaksi antara oksigen dan hidrogen yang berasal dari air yang ada di teras reaktor dengan suhu kamar di sekitar reaktor yang menjadi panas, karena sistem pendinginan reaktor nuklir menjadi rusak akibat guncangan gempa sehingga memicu timbulnya ledakan pada reaktor nuklir.

Mitigasi Risiko

Mitigasi risiko adalah langkah yang sangat perlu dilakukan sebagai suatu titik tolak utama dari manajemen bencana. Tujuan utamanya adalah mengurangi risiko bencana dan / atau meniadakan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang mungkin timbul. Dengan demikian, mitigasi risiko harus dipandang sebagai investasi bukan sebagai biaya.

Dalam kasus mitigasi risiko radiasi nuklir, maka operator langsung memadamkan reaktor nuklir. Walaupun, setelah dipadamkan, suhu di sekitar reaktor tetap menjadi panas sehingga memaksa operator reaktor melepaskan gas-gas yang ada di teras reaktor untuk mengurangi tekanan. Hal ini dilakukan untuk mencegah ledakan nuklir yang ada di dalam reaktor nuklir / inti reaktor nuklir tersebut yang bisa menimbulkan dampak yang lebih parah. Walaupun 4 dari 6 reaktor nuklir meledak, tapi hal itu tidak terlalu berbahaya karena ledakan terjadi hanya di bagian luar reaktor nuklir.

Selain itu, warga diminta meninggalkan daerah yang terkena dampak radioaktif, walaupun tingkat radiasi yang terdeteksi masih dalam level aman / belum cukup untuk menyebabkan kerusakan pada manusia.

Pernyataan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), As Natio Lasman pada 13 Maret 2011 bahwa Indonesia aman dari ancaman radiasi akibat kebocoran kecil pada reaktor nuklir di Jepang meneduhkan perasaan bangsa Indonesia dan menghindarkan beredarnya berita-berita yang dapat memicu terjadinya kepanikan.

pic.:kids.britannica.com

(Dina Boenanto/TA/TML)