Strategi Mengelola Risiko Valas (2)

(The Manager’s Lounge, Risk Management)
Diversifikasi
Salah satu cara dalam mengatasi operating exposure adalah dengan melakukan diversifikasi baik dalam hal operasi maupun finansial. Diversifikasi operasi berarti mendiversifikasikan penjualan, lokasi fasilitas produksi, serta sumber bahan baku. Sementara itu, diversifikasi finansial berarti meraih pendanaan lebih dari satu pasar modal dan lebih dari satu mata uang.

Leads & Lags
Transaction dan operating exposure dapat diperkecil dengan cara mempercepat ataupun menunda pembayaran atau penerimaan dalam mata uang asing. Lead adalah membayar lebih cepat, sementara lag adalah membayar lebih lambat. Perusahaan yang memegang soft currency (mata uang yang berpotensi depresiasi) atau punya utang denominasi dalam hard currency (mata uang yang berpotensi apresiasi) akan melakukan lead menggunakan soft currency untuk membayar hard currency secepatnya. Sementara itu, perusahaan yang memegang hard currency atau punya utang denominasi soft currency akan melakukan lag menggunakan hard currency, dengan harapan di masa depan dia bisa membayar dengan jumlah lebih sedikit.

Risk-Sharing
Alternatif lainnya yang dalam digunakan untuk mengelola exposure adalah dengan melakukan kesepakatan risk-sharing antara kedua belah pihak antara penjual dan pembeli. Jadi, keduanya bersepakat untuk membagi dampak perubahan nilai tukar terhadap pembayaran arus kas yang bakal terjadi antar keduanya. Risk sharing ini sangat bermanfaat bagi dua pihak yang ingin menjalin hubungan kerja dalam jangka panjang.

Matching Cash Flow
Hedging yang alami dapat dilakukan dengan matching cash flow, yakni menyesuaikan antara arus kas masuk dan keluar dalam denominasi tertentu. Contohnya adalah perusahaan AS yang mengekspor ke Kanada, dan mengirim invoice dalam dollar Kanada untuk pembayaran sebulan ke depan. Sehingga, sebulan ke depan tentu perusahaan AS ini mengalami exposure akibat ketidakpastian arus kas yang diterimanya jika nilai tukar berubah. Oleh karena itu, perusahaan AS ini dapat melakukan hedging alami dengan menyesuaikan pemasukan di masa depan ini dengan pengeluaran dalam dollar Kanada juga.

Back-to-Back Loan
Back-to-back loan, atau biasa juga disebut dengan credit swap, melibatkan dua bisnis yang berada dalam dua negara berbeda untuk saling meminjam dalam mata uang pihak lainnya untuk periode tertentu.

Misalnya, perusahaan induk di Inggris ingin berinvestasi pada afiliasinya di Belanda, sementara itu, ada pula sebuah perusahaan induk di Belanda ingin berinvestasi di Inggris. Supaya tidak terekspos terhadap risiko nilai tukar, maka perusahaan induk di Inggris dapat memberi pinjaman dalam poundsterling ke perusahaan afiliasi Belanda yang di Inggris, sementara perusahaan induk Belanda dapat memberi pinjaman dalam euro kepada perusahan afiliasi Inggris yang terletak di Belanda. Kedua pinjaman ini punya nilai yang setara sesuai dengan spot rate, dan punya jatuh tempo yang sama. Ketika jatuh tempo, pinjaman tersebut dikembalikan tanpa harus terekspos risiko valas.

Currency Swap
Dalam sebuah currency swap, swap dealer yang biasanya bank sepakat untuk menukar jumlah yang sama dari dua mata uang yang berbeda selama periode waktu tertentu. Jadi, misalnya perusahaan Jepang melakukan ekspor ke AS dan memperoleh pemasukan dalam bentuk dollar AS. Supaya tidak terekspos terhadap risiko valas, maka mereka melakukan currency swap, sehingga mereka dapat menukar penerimaannya dalam bentuk dollar dengan penerimaan dalam bentuk yen. Dalam currency swap ini, biasanya pihak satu tidak mengetahui siapa pihak lawan, karena bank bertindak sebagai perantara yang mengatur semuanya.

Balance sheet hedge
Balance sheet hedge merupakan hedging neraca yang dilakukan untuk mengatasi translation atau accounting exposure. Balance sheet hedge, membutuhkan jumlah yang sama antara aset dan utang yang terekspos risiko dalam neraca konsolidasi, sehingga net exposure-nya menjadi nol. Perubahan nilai tukar dalam utang yang terekspos risiko akan mengakibatkan dampak yang sebaliknya terhadap perubahan aset yang terekspos risiko.

Strategi hedging yang dapat dilakukan untuk mengurangi translation exposure adalah:
· meningkatkan hard-currency, atau aset yang berpotensi untuk mengalami apresiasi
· menurunkan soft-currency, atau aset yang berpotensi untuk mengalami depresiasi
· menurunkan utang hard-currency
· meningkatkan utang soft-currency

Demikian adalah sejumlah strategi dalam mengatasi berbagai exposure terhadap risiko valuta asing. Analisa yang mendalam diperlukan sebelum mengambil keputusan hedging, dan memilih jenis hedging. Perusahaan yang dalam kegiatannya aktif menggunakan valuta asing perlu untuk menerapkan strategi-strategi ini demi meminimalisir risiko sehingga mendukung dalam pencapaian tujuan organisasi.

pic.: pmtips.net

(Rinella Putri/TA/TML)