Matsushita Konosuke, Pemimpin Yang Menjunjung Tinggi Nilai Kemanusiaan (2)

“Kunci sukses Matsushita karena ia mau mendengar pendapat dan pikiran orang lain,”
(Bunryo Okamoto & Isao Takada, penulis biografi Matsuhita Konosuke )

(Business Lounge – Leadership) – Ciri khas gaya kepemimpinan matsushita adalah menempatkan orang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri. Tidak ada sukses yang harus dibanggakan sebagai keberhasilan sendiri. Demikian juga tidak ada kegagalan yang harus ditimpakan kepada seseorang saja.

Terkadang kita tidak menyadari bahwa dalam hidup ini kita tidak pernah berjalan sendiri. Ada orang-orang di sekitar kita yang ikut berperan dalam kegagalan maupun keberhasilan kerja kita. Sayangnya, kita sering melupakan kenyataan tersebut. Ketika kita meraih sukses, yang dibanggakan adalah keunggulan sendiri; sebaliknya jika kita gagal, maka kita mencoba mencari kambing hitam dengan menyalahkan pihak lain. Mungkin kita akan dengan bangga mencatat setiap keberhasilan yang kita raih, namun tidak mau belajar dari sebuah kegagalan…padahal melalui kegagalan tersebut kita dapat belajar dan kemudian menjadi berhasil.

Matsushita telah menunjukkan makna sebuah pribahasa, non scholae sed vitae discimus : kita belajar bukan untuk gelar atau ijazah melainkan untuk hidup.
Meskipun mengikuti pendidikan formalnya hanya sampai di sekolah dasar, Itupun tidak sempat diselesaikannya karena kemiskinan dan keterbatasan keluarganya, namun, Matsushita tidak pernah berputus asa. Dia dengan lapang dada menerima situasi itu dan tidak bersikap iri hati kepada teman-temannya yang kaya. Meskipun mengalami banyak hambatan, ia terus belajar. Belajar baginya tidak hanya disekolah formal. Berkat semangat belajarnya dia mampu menciptakan karya besar, dimulai dari fitting lampu, radio hingga kapal laut maupun pesawat terbang.

Semua hal itu bisa dilakukan karena Matsushita terus belajar dan mampu membangun suatu tim kerja yang dapat bersinergi. Sinergi itu menghasilkan produk-produk yang berkualitas tinggi yang memenuhi kebutuhan masyarakat dan diterima oleh pasar. Hal itu dilandasi oleh pendekatan kemanusiaan yang luar biasa dari Matsushita. Para karyawan di perusahaan merasa bukan hanya sebagai “bawahan” yang hanya menanti perintah pimpinan, melainkan menjadi anggota tim bersama atasannya. Pemikiran, temuan, inisiatif, dan kerja keras karyawan menjadi tiang utama keberhasilan suatu usaha. Matsushita bukan hanya memberikan dorongan tetapi kesempatan karyawan untuk itu, sehingga karyawan dapat mengembangkan diri. Dan dengan itu, karyawan membesarkan perusahaan.

Matsushita juga merupakan seorang humanis besar. Dia tidak hanya memikirkan menciptakan barang, menuai keuntungan usaha untuk diri sendiri dan keluarganya tetapi untuk bangsanya. Bagaimana membangun masa depan generasi muda bangsanya, baik di negrinya sendiri maupun di negara-negara asia pada umumnya lebih cerah menjadi komitmennya. Dalam buku Matsushita: Lessons from the Life of the Twentieth Century’s Most Remarkable Entrepreneur (1989), John Kotter menjelaskan bahwa Matsushita melakukan “apa yang dilakukan oleh semua pemimpin besar-yakni memotivasi kelompok besar individu untuk memperbaiki kondisi manusia.”

Pada tanggal 3 November 1946, pada masa-masa sulit pascaperang, matsushita mendirikan PHP Institut (Peace and Happiness through Prosperity) yang banyak menerbitkan buku, membantu atau mendanai berbagai macam project yang sebenarnya merupakan buah dari filosofi yang dianut oleh Matsushita. “Yang pertama, kita harus benar-benar tahu apa itu manusia. Jika seseorang ingin memelihara kambing, dia harus belajar tentang sifat kambing. Jadi, dengan rendah hati, saya ingin belajar tentang sifat manusia,” kata Matsushita. Kalimat di atas mencerminkan kesadaran tinggi akan jati diri dan nilai kecerdasan spiritual diri.

NS/RP/dari berbagai sumber