Wanita Lebih Rentan Terkena Work Stress?

(The Manager’s Lounge – HR) – Beberapa riset yang baru-baru ini dirilis menunjukkan bahwa wanita lebih banyak terkena work-stress dibandingkan dengan pria. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan work-stress? Lalu bagaimana employer bisa mengelola hal tersebut?

Hasil Survey
Kenexa Research Institute yang meneliti responden di AS menemukan bahwa wanita lebih banyak mengalami work-stress dibandingkan dengan pria. Sekitar 56% wanita mengungkapkan bahwa level stress mereka masih berada pada level yang wajar. Sementara itu sekitar ¼ responden wanita, tepatnya 26% merasa bahwa level stress mereka sudah berada di luar kewajaran.

Di antara berbagai macam pekerjaan, wanita mencatatkan lebih banyak stress yang di luar kewajaran dibandingkan dengan pria. Selisih terbesar antara pria dan wanita terdapat pada mereka yang punya tanggung jawab sebagai supervisor frontline yakni 10%, selanjutnya mereka yang berada di bagian service dan produksi (8%) serta manajer menengah dan puncak.

Hasil penelitian yang senada juga diperoleh American Physchological Association, yang menyelenggarakan studi sejak bulan Juni hingga Agustus. Survei tersebut menunjukkan bahwa lebih banyak wanita dibandingkan dengan pria yang mengalami stress akibat ancaman resesi ekonomi. Gejala-gejala stress yang seringkali timbul diantaranya adalah sakit kepala, insomnia, kelelahan luar biasa, makan berlebihan, sakit pada dada, sering absent. Kinerja memburuk dan lainnya.


Work Stress: Penyebab dan Implikasi
Banyak aspek-aspek yang berkontribusi sebagai penyebab work-stress, mulai dari kurang sreg dengan pekerjaan, beban kerja terlalu berat, deadline yang mepet, tekanan dari atasan, kompensasi yang tidak adil, job insecurity, diskriminasi, hubungan yang kurang baik dengan atasan maupun rekan kerja, kurangnya otonomi, tidak kompaknya tim dan lain sebagainya.

Riset dari Kenexa Research menunjukkan bahwa faktor yang paling banyak menyebabkan stress pada wanita adalah dukungan manajerial serta masalah kesempatan yang sama dengan pria. Sementara itu, faktor yang menyebabkan stress pada pria lebih pada faktor kualitas produk serta kepercayaan dari pemimpin senior.

Work-stress sudah jelas akan menurunkan morale dan level engagement dari karyawan. Riset Kenexa menunjukkan bahwa tidak peduli pada pria maupun wanita, jika level stressnya sudah terlalu tinggi maka mereka berpikir untuk meninggalkan pekerjaannya. Oleh karena itu, employer tentunya penting untuk mengelola work-stress yang terjadi pada karyawan.

Mengapa Wanita?
Lalu mengapa wanita yang dilaporkan lebih rentan terkena stress? Terdapat beberapa alasan. Pertama, hal ini disebabkan oleh tanggung jawab ekstra yang diemban oleh wanita, terutama pada wanita pekerja. Pada umumnya, yang mengatur keuangan rumah tangga adalah wanita, sehingga di masa perekonomian sulit seperti ini, level stress mereka juga semakin meningkat. Kedua, karena dalam masa perekonomian seperti ini, wanita cenderung enggan untuk menegosiasikan kenaikan gaji. Ketiga, karena wanita pada dasarnya lebih emosional dibandingkan dengan pria, sehingga jika mengalami masalah maka cenderung berpengaruh terhadap emosi mereka. Dan terakhir, karena wanita bersikap lebih terbuka untuk berbicara mengenai stress yang mereka hadapi.

Faktor stress yang lebih tinggi pada wanita ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa posisi manajemen lebih banyak dihuni oleh pria dibandingkan wanita. Wanita seringkali dituntut untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik sekaligus wanita karir. Sementara, di sisi lain, sulit untuk menyeimbangkan peran antara keduanya seandainya wanita berada di posisi manajemen atas, yang tentunya menyita waktu yang lebih besar.

Oleh karena itu, wanita harus pandai-pandai dalam mengatasi stress yang dirasakannya. Bagaimana tips dalam mengatasi work stress? Nantikan dalam artikel berikutnya.

pic : www.ehow.com

(Vibiz Motivation & Leadership Center/SK/TML)