Tantangan Terkini Aplikasi ERM

(The Manager’s Lounge, Risk Management) – Organisasi seringkali menghadapi masalah yang terkait dengan ERM. Untuk menciptakan ERM yang sukses, maka tantangan ini harus dijawab oleh organisasi. Berdasarkan majalah Risk Management Magazine, terdapat 10 tantangan utama yang dihadapi oleh ERM:

1.Assessing ERM Value
Biasanya, keputusan investasi diukur dengan metrik-metrik tradisional seperti ROE, ROA dan RAROC. Sementara itu, untuk mengukur ERM value, tidak ada cara yang baku.

Sehingga, biasanya perusahaan mengukur ERM value dengan menggunakan empat kategori: pertama, mengukur shareholder value added; kedua, mengukur risiko yang berhasil dihindari ataupun diperkecil seperti melalui hedging dan lainnya; ketiga, mengukur penghematan yang dihasilkan; dan terakhir manfaat kualitatif seperti meningkatkan transparansi, meningkatkan koordinasi & tanggung jawab manajemen risiko dan lainnya. Alternatif lainnya yakni dengan menyelenggarakan ERM secara pilot basis, atau mengimplementasikan program ERM yang ringan.

2.Privilege
Seringkali informasi risiko mengandung informasi yang sensitif. Untuk mengatasinya, maka laporkan data mengenai risiko dalam kategori yang umum saja, tanpa membicarakan mengenai detail seperti kontrak, counterparty, proyek, dan sebagainya. Selain itu, bisa juga tingkat kerusakan dilaporkan dalam bentuk kualitatif, tanpa menyatakan jumlah biaya secara gamblang. Meskipun pendekatan yang konservatif lebih umum diadopsi, namun kini industri lebih mengarah pada transparansi yang lebih besar.

3.Defining Risk
Salah satu tantangan besar adalah bagaimana dalam mendefinisikan risiko secara konsisten. Tiadanya definisi yang konsisten menimbulkan ancaman terhadap kesuksesan ERM.

Sehingga, dengan demikian definisi risiko sendiri dapat dibentuk melalui sejumlah kelompok kerja yang terdiri dari perwakilan-perwakilan unit bisnis dalam organisasi dan fungsi-fungsi tertentu. Tujuan utama dari kelompok kerja ini adalah mendefinisikan risiko itu sendiri, yang juga didukung oleh panduan yang jelas. Buat juga suatu risk inventory dan risk taxonomy untuk mendefinisikan dan meranking seluruh risiko yang dihadapi organisasi.

4.Risk Assessment Method
Metode untuk melakukan pengukuran risiko ada bermacam-macam, yang masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, yang harus disesuaikan dengan kecocokan organisasi.

Biasanya, metode pengukuran yang digunakan tergantung pada jumlah responden, budaya organisasi, hingga sejauh mana tingkat familiar organisasi dengan manajemen risiko. Bisa dengan diskusi face-to-face, hingga tools yang otomatis. Metode pengukuran risiko biasanya juga disesuaikan dengan sasaran responden, misalnya bisa jadi interview kelompok, kemudian khusus untuk manajemen dan bagian teknis, juga dilakukan interview individual.

5.Qualitative Versus Quantitative
Keputusan yang perlu dibuat oleh perusahaan adalah mengukur risiko secara kualitatif atau kuantitatif. Kualitatif memang lebih sederhana, dan biayanya cenderung rendah, namun kurang selaras dengan indikator keuangan maupun anggaran. Meskipun demikian, namun kini pengukuran lebih cenderung ke kuantitatif

6.Time Horizon
Hasil dari ERM banyak digunakan untuk perencanaan kuartalan atau akhir tahun, sementara bagi perusahaan yang sudah lebih canggih, biasanya hasil ERM diintegrasikan ke dalam proses strategic planning dan anggaran tahunan. Biasanya, time horizon yang pendek (<12 bulan) lebih disukai selain akurasi estimasi lebih tinggi, juga lebih murah dan butuh training lebih sedikit. Sementara itu, time horizon yang lebih panjang dibutuhkan jika perusahaan melihat adanya risiko di luar periode tahunan. Kini, perusahaan mulai beralih dari time horizon pendek jadi lebih panjang ataupun perpaduan keduanya.

7.Multiple Potential Scenario
Sebagian besar risiko mempunyai sejumlah kemungkinan dan tingkat kerusakan (severity) yang berbeda-beda. Pendekatan yang umum adalah dengan memperkirakan kerusakan berdasarkan frekuensi terjadinya, besar risiko, data historis hingga hasil stress test. Misalnya dalam setahun risiko tersebut terjadi 5 kali, menghabiskan kerugian sebesar 100 juta. Maka, berarti rata-rata kerugian sebesar 20 juta per kejadian. Sementara itu, metode yang lebih advanced yakni memperkirakan besar severity yang berbeda untuk tiap kemungkinan event yang terjadi, baru kemudian memperkirakan reratanya. Biasanya metode yang lebih familiar akan dipilih.

8.ERM Ownership
Masalah mengenai siapa yang seharusnya bertanggung jawab terhadap ERM memang kurang jelas, dan sering diperdebatkan. Kebanyakan, tanggung jawab ini dipegang oleh manajer lini, dengan pengawasan dari compliance dan manajemen. Urusan ERM seharusnya dipegang oleh bagian manajemen risiko, serta didukung audit internal, keuangan/treasury, serta divisi legal dan lainnya seperti compliance dan strategic planning.

9.Risk Reporting
Masalah yang dihadapi perusahaan dalam hal melaporkan risiko pada umumnya ada dua, yakni informasi apa saja yang harus dibagi, serta bagaimana mengkomunikasikannya. Laporan mengenai risiko biasanya berasal dari database dan taksonomi risiko dimana informasinya bervariasi, tergantung siapa yang bertanggung jawab, jenis risiko dan dampaknya.

Laporan yang dibuat oleh direksi misalnya, menampilkan mengenai risiko-risiko strategis dan punya dampak besar terhadap bisnis. Kemudian laporan dari unit bisnis dan manajer lini cenderung lebih melaporkan risiko-risiko di level menengah, taktis dan compliance. Sementara itu, laporan eksternal lebih sulit lagi, karena harus menentukan informasi apa saja yang mau dibagi kepada publik.

10.Simulation and Stress Tests
Stress test membantu bisnis untuk mengukur sebagaimana dampak buruk sejumlah kejadian terhadap bisnis, dan bagaimana kemampuan bisnis dalam menghadapinya. Tidak ada aturan yang baku dalam melakukan stress test, namun biasanya skenario yang diasumsikan dalam stress test adalah skenario terburuk dan sejumlah skenario makroekonomi lainnya.

Demikian adalah sejumlah manfaat dan langkah ERM, serta tantangan yang umum dihadapi oleh ERM. Implementasi ERM diharapkan dapat membantu organisasi untuk mengelola risiko yang menjadi hambatan dalam pencapaian tujuan.

pic.:tpt.com

(Rinella Putri/TA/TML)