Model Bisnis Fads

(The Manager’s Lounge – Sales & Marketing) – Saat ini di dunia internet banyak mode fads yang hanya euforia sesaat , seperti blog, friendster dan lain-lain . Kalau dalam dunia tarik suara ada juga fenomena sesaat atau model bisnis fads ini, kalau kita lihat beberapa tahun yang lalu apa sih persamaan Ngebor, Poco-Poco, Asereje, Macarena dan Lambada? Pada masa keemasannya, tarian-tarian ini betul-betul tak terlupakan. Katakanlah, Inul dengan Goyang Ngebornya. Kelincahannya bahkan sempat diliput media massa dari mancanegara, seperti Time, The Economist, The Straits Times dan The International Herald Tribune. Tidak terkecuali sejumlah media dari Timur Tengah.

Puncaknya adalah ketika penari yang bernama asli Ainul Rokhimah ini turut tampil di konser perdamaian di Bali pertengahan 2003 ditonton oleh 3 miliar pemirsa dari 210 negara. Wow! Wanita asal Pasuruan itu begitu menghebohkan, sehingga honornya melonjak dari rat usan ribu menjadi puluhan juta Rupiah sekali manggung. Tetapi, itu dulu. Lha, sekarang? Konon, tarifnya hanya belasan juta. Dan kami jamin, lima tahun ke depan tarifnya akan lebih rendah lagi. Yah, harap maklum, pesta ngebor telah usai.

Dalam pemasaran, fenomena seperti itu tidak asing. Pelaku bisnis menyebutnya dengan fad. Begitu menyeruak, fad akan melambung bagaikan roket. Tetapi tidak lama kemudian ia akan menukik bagaikan meteor. Selain itu, ketika naik maupun turun, fad sama sekali tak terbendung (Tengok saja Inul! Awal-awalnya, baik kecaman Rhoma Irama maupun fatwa MUI tidak sanggup meredam ketenarannya).

Lain halnya dengan fad. Masih ingat dengan eforia pakaian serba silver menjelang pergantian mile. Dalam pemasaran, fenomena seperti itu tidak asing. Pelaku bisnis menyebutnya dengan fad. Begitu menyeruak, fad akan melambung bagaikan roket. Tetapi tidak lama kemudian ia akan menukik bagaikan meteor. Selain itu, ketika naik maupun turun, fad sarna sekali tak terbendung (Tengok saja Inul! Awal-awalnya, baik kecaman Rhoma Irama maupun fatwa MUI tidak sanggup meredam ketenarannya).

Jadi, pergerakan fad tidak sama dengan produk rata-rata yang lazimnya menempuh sejumlah tahap pada kurva daur hidup produk (product life cycle). Adapun, menurut pakar pemasaran Michael Baker dan Susan Hart, tahap-tahap pada kurva tersebut adalah pengembangan (gestation), pengenalan (introduction), pertumbuhan (growth), kedewasaan (maturity), kejenuhan (saturation), penurunan (decline) dan penghapusan (elimination).

Nah, itu artinya, produk rata-rata melintasi tahap-tahap di atas dalam kurun waktu yang cukup lama. Contoh ekstremnya adalah Swatch. Arloji asal Swiss itu bahkan masih bercokol di tahap kedewasaan kendati sudah berusia puluhan tahun.

Lain halnya dengan fad. Masih ingat dengan eforia pakaian serba silver menjelang pergantian mile nium? Masih ingat dengan eforia rambut ala Ghost, Speed atau Meteor Garden? Masih ingat dengan eforia buku-buku seri For Dummies di akhir tahun 90-an. Tak urung, kami pun membeli Marketing for Dummies. Belum lagi mainan dinosaurus, mainan beyblade dan ikan louhan. Semua inilah yang dilabel dengan fad. Tidak ada yang langgeng, ‘kan? Dengan demikian, waspadailah bisnis berbasis fad.

Tetapi, itu bukan berarti fad ‘haram’ untuk diamalkan.
Bisa jadi fad memang disengaja oleh si pelaku bisnis. Ada dua penjelasan untuk itu. Pertama, skenario tabrak lari (hit-and-run). Tahu betul bahwa produknya tidak akan sanggup bertahan lama, si pelaku bisnis menghindari segala investasi yang bersifat jangka panjang. Apa yang ia lakoni hanyalah aksi ambil untung sebesar-besatnya ketika produk sedang jaya-jayanya (hit). Setelah merosot, ia pun cabut dari bisnis tersebut (run) tanpa berusaha untuk bertahan.

Kedua, skenario pukulan bertubi-tubi. Ini merupakan perpaduan antara inovasi dan kanibalisasi. Ambil contoh Nokia. Jawara ponsel asal Finlandia ini senantiasa mengeluarkan sekitar satu varian anyar setiap bulannya. Tidak heran apabila para pesaingnya kelabakan untuk benchmarking dan copy-catting (Jadilah ponsel ini sebagai sumber inspirasi bagi CELEBrand untuk menciptakan lagu Nokia Girl).

Manakala ponsel yang satu mengorbit, ponsel yang lain memudar pesonanya. Dengan kata lain, di satu sisi Nokia memang sengaja melahirkanfad. Namundi sisi lainnya, Nokiajugasengaja mematikan fad yang lama dengan fad yang baru (automatic cannibalization). Manuver serupa juga terlihat pada komputer, otomotif atau produk-produk yang sarat kadar teknologinya.

Begitu pula dengan dunia hiburan seperti film, musik, dan busana. Biasanya, apa yang mereka otak-atik adalah fashion (baca: tampilan)-bukan lagi function (baca: kegunaan). Walhasil, barang-barang yang beredar pun tampak usang. Dan mau tidak mau, konsumen terpaksa mengikuti fad, agar tidak dicap ketinggalan zaman.(fad)

 

 

(Vibiz Consulting/AA/TML)