Diplomasi Publik Yang Baru: What does this historical moment ask of public relations professionals?

(The Manager’s Lounge – Sales & Marketing) – Momen IPRA ini meminta supaya kita tidak hanya berperan sebagai orang PR saja, melainkan juga diplomat public. Untuk bekerja dengan efektif dalam dunia yang saling berketerkaitan ini, kita mebutuhkan cara yang baru dalam bekerja. Sebagai PR yang professional, kami perlu untuk menggunakan skill komunikasi dan relationship untuk mengidentifikasi, menekankan dan menumbuhkan kepentingan dan nilai yang sama antara orang-orang di seluruh dunia.

Definisi diplomasi publik diciptakan pada 1965 oleh Edmund Gullion, dekan dari Fletcher School of Law and Diplomacy di Tufts University di Amerika, ketika mereka membangun Edward R. Murrow Center of Public Diplomacy. Namun konsep diplomasi public mereka terbatas hanya pada menjelaskan dan mempromosikan isu dan kebijakan asing.

Sekarang ini tidak pelak lagi bahwa pemerintah Anda dan saya berkomunikasi untuk menginformasikan atau mempengaruhi opini public baik di negaranya maupun di Negara lain. Kita tidak perlu lagi mendebatkan hal tersebut.

Saya menyarankan, yaitu saling berhubungan dan ketergantungan kita dalam perekonomian global ini menghadirkan suatu peluang yang baru untuk dialog internasional dan kolaborasi untuk masing-masing orang. Bukanlah kebijakan asing yang dijelaskan dan dipromosikan oleh para praktisi public relations.

Hal yang dibutuhkan oleh perusahaan dan klien adalah collaborative diplomacy yang memfasilitasi hubungan antar partner dan partner yang potensial sementara mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Dan kelompok ini bisa saja berada di China ataupun di Charing Cross. dan kemungkinan mereka berada di seluruh dunia sama besar dengan dengan kemungkinan mereka berada di jalanan depan rumah kita.

Collaborative diplomacy ini tidaklah hanya suatu praktik PR yang bagus, melainkan juga bisnis yang bagus. Walaupun teknologi memungkinkan komunikasi, namun kita tidak dapat mengandalkan pesan instant pada gambar-gambar You tube, sebagaimanaapun menariknya. Kita harus menyediakan konteks dan menjelaskan motif dan tujuan serta mendeskripsikan berbagai atribut yang membentuk industri, bangsa dan budaya kita.

Industri yang saya geluti, yaitu farmasi, saat ini fokusnya berpindah ke Asia. Baik pasarnya maupun asal perkembangan penelitian hingga pengobatan yang baru. Namun terlalu banyak perusahaan yang bertindak naïf ketika memutuskan mengenai apakah mereka akan berpartner di pasar yang baru, berpartner dengan siapa serta bagaimana mengelola hubungan tersebut.

Wall Street Journal belakangan ini melaporkan contoh terbaik untuk hal ini yang terjadi pada Cina dan India. Dua Negara ini memiliki perbedaaan signifikan dalam hal pendapatan, iklim geografis, budaya, bahasa dan agama. Kesuksesan bisnis di kedua Negara ini tidaklah mungkin tanpa pemahaman mendalam dan segmenatsi pasar dengan baik.

Haier Group, produsen dari Cina, membuat beberapa lini produk mesin cuci. Satu adalah untuk penduduk rural. Mesin cuci tersebut tidak hanya dapat membersihka pakaian, melainkan juga ubi dan kacang ! Haier juga menjual mesin cuci kecil yang didesain untuk membersihkan sehelai pakaian. Di daerah Shanghai sangat populer.

Salah satu contoh lain dimana collaborative public diplomacy mendukung strategi bisnis adalah kasus perusahaan AS yaitu Campbell Soup. Awalnya ketika memasuki Rusia dan Cina, mereka menjual supnya dalam kaleng atau kotak. Hingga 1990, tingkat kesuksesannya kecil. Sekarang mereka melakukannya dengan cara berbeda. Setelah mengunjungi rumah orang-orang Rusia dan Cina serta melihat bagaimana mereka menyiapkan dan memakan sup dan menanyakan bagaimana pentingnya sup dalam kehidupan mereka.

Mereka kemudian mempelajari bahwa sup adalah sumber kebanggan di negara tersebut, dan orang-orang cenderung untuk menggunakan sup sebagai dasar dari masakan lain. Sehingga Campbell akan memasuki kembali pasar tersebut pada musim gugur ini dengan ‘starter soup’ untuk membantu konsumen menghemat waktu selagi membuat sup sesuai selera mereka.

Pemahaman kebudayaan sangatlah penting untuk kesuksesan bisnis dan itu adalah komponen utama dalam suatu diplomasi publik. Namun diluar kesuksesan komersial, diplomasi publik melalui bisnis juga dapat menjadi kekuatan yang bermanfaat bagi perubahan global serta menyampaikan masalah nasional.

Setelah tsunami pada 2005, perusahaan Amerika adalah termasuk yang paling cepat merespon dengan baik terhadap Indonesia. Seminggu kemudian, survei menunjukkan bahwa terdapat opini buruk mengenai AS dimana-mana. Namun terdapat pengecualian di Indonesia. Disini cenderung stabil.

Kita tidak dapat mengabaikan pentingnya persepsi publik. Pew Foundation di AS baru-baru ini melakukan survei di 32 negara. Survei menunjukkan bahwa teman atau relatif di AS yang telah mengunjungi negara tersebut cenderung untuk memiliki opini baik mengenai negara tersebut.

Kesimpulannya, tiap bangsa, tiap bisnis dan tiap orang dapat mamatahkan suatu praduga, stereotype, kecurigaan dan ketidakpercayaan jika kita dapat memiliki suatu pengalaman hidup bersama orang lain tersebut. Ini menunjukkan satu hal, yaitu public relations telah melakukan diplomasi publik dengan baik. (RP)

 

 

(Robert W. Grupp/AA/TML)