Indonesia Basis Sekaligus Pasar Mobil MPV

(The Manager’s Lounge – Sales & Marketing) – Masyarakat Indonesia sangat kekeluargaan, tidak hanya dalam arti pergaulan tetapi juga dalam hal beraktivitas.

Tidak heran apabila kendaraan berjenis “multi purpose vehicle” (MPV) yang mampu menampung banyak penumpang sangat diminati di Indonesia.

Pada ajang “Indonesia International Motor Show” (IIMS) yang digelar di JIExpo Kemayoran, dua Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), yakni PT Toyota Astra Motor (TAM) dan PT Proton Motor Indonesia meluncurkan secara resmi MPV terbarunya.

Untuk Proton, Exora merupakan model MPV pertama yang dipasarkan di Indonesia, menyusul enam model mobil yang terlebih dulu dipasarkan di Tanah Air. Sedangkan untuk TAM, Alphard 2,4 L dan Kijang Innova Luxury merupakan MPV varian baru.

Direktur Pemasaran TAM, Joko Trisanyoto pada peluncuran Alphard 2,4 L di IIMS ke-17 mengatakan bahwa alasan pihaknya meluncurkan varian MPV premium baru ini karena bukti tingginya permintaan produk tersebut di Indonesia.

“Tahun 2008 kemarin kita menjual 44 unit (Alphard 3,5 L). Sampai Juni tahun ini (2009) baru 12 unit, tapi berdasarkan daftar di Kepolisian sudah tercatat 600 unit,” ujar Joko.

Ia mengakui bahwa penjualan MPV premium di Tanah Air tidak sebaik MPV pada level menengah ke bawah. “Sudah menjadi umum jika yang lebih mahal penjualannya lebih sedikit”.

Penurunan penjualanan MPV premium sama seperti yang diperkirakan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) sekitar 30 persen. Namun, menurut Joko perkiraan tersebut tidak berlaku pada mobil jenis MPV kelas menengah ke bawah.

“Penurunan untuk MPV kelas menengah bawah paling hanya enam hingga tujuh persen,” lanjut dia.

Sementara itu pesaing Alphard, yakni Volkswagen (VW) Caravella pun tidak lantas merasa tersaingi. Terbukti hingga hari ke-4 pameran otomotif produk premium tersebut telah terjual dua unit.

Head of Public Relation Departemen PT Garuda Mataram Motor, Wanny Bhakti A P, saat ditemui di IIMS 2009 mengatakan bahwa dengan diluncurkannya varian baru Alphard 2,4 L sama sekali tidak membuat pihaknya khawatir.

“Semua ada pasarnya masing-masing. Ada yang memang penggemar mobil Eropa, ada
yang memang penggemar mobil Jepang, jadi tidak ada masalah,” ujar Wanny.

Pasar Besar MPV

Jenis kendaraan favorit keluarga yang paling laku terjual sejauh ini MPV medium, dimana harga jual berkisar di atas Rp150 juta hingga Rp300 juta.

Menurut Joko, saat ini saat ini Kijang Innova termasuk kendaraan terlaris di segmen 4×2 MPV Medium, dengan penjualan mencapai 15.449 unit hingga Juni, atau lebih dari 80 persen pangsa pasar.

Target penjualan hingga akhir Semester II sendiri, lanjut Joko, diharapkan dapat mencapai sekitar 400 unit tipe V dan 1.000 unit untuk tipe G. Sementara target penjualan seluruh varian Kijang Innova sebanyak 16 pilihan diharapkan dapat menembus di atas angka 30.000 unit hingga akhir tahun.

Sementara itu, Managing Director Proton Holdings Berhad, Dato` Haji Syed Zainal Abidin Syed Mohamed Tahir, saat secara resmi meluncurkan MPV Exora pada pembukaan IIMS menyatakan optimistis mampu menaikan penjualan dengan memasukan mobil keluarga tersebut.

Pasar MPV di Indonesia, menurut dia, sangat besar dan masih belum semuanya tergarap. Produk terbarunya diyakini mampu bersaing dengan produk MPV Jepang yang merajai pasar mobil keluarga tersebut.

Sebanyak 600 unit mobil jenis MPV yang berada dikisaran harga Rp160 juta hingga Rp220 juta tersebut, ujar dia, telah dipesan. Ia berharap pada pameran otomotif terbesar di Indonesia kali ini total penjualan mampu menembus angka 300 unit.

Mobil MPV dengan kapasitas hingga tujuh penumpang memang disukai semua level masyarakat. Bahkan Menteri Perindustrian Fahmi Idris lebih memilih menggunakan Kijang Innova untuk beraktivitas sehari-hari.

“Mobil dinas saya Cammry, tapi saya lebih senang menggunakan mobil pribadi saya, Kijang Innova karena lebih hemat bahan bakar,” ujar Fahmi di sela-sela peresmian IIMS 2009 lalu.

Ia pun mengaku bangga menggunakan mobil tersebut karena telah menggunakan hingga 80 persen bahan baku lokal.

“Ini satu kebanggaan,” ujar Fahmi.

Basis produksi MPV

Tingginya permintaan akan mobil berkapasitas tujuh penumpang di Tanah Air telah lama disadari produsen-produsen otomotif Jepang, sehingga mereka dengan sukses tidak saja memasarkannya tetapi juga memproduksinya di Indonesia.

Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta, pertumbuhan ekonomi yang masih positif di tengah krisis keuangan global, daya beli yang masih terjaga, meyakinkan produsen otomotif dunia untuk merambah pasar Indonesia, bahkan menjadikannya basis industri.

Sebut saja VW, General Motors (GM), Tata Motor, yang juga pikir untuk memproduksi mobil di Indonesia.

VW mengambil langkah awal dengan merakit VW Tauran, mobil berjenis MPV dengan harga di atas Rp300 juta, di Indonesia. Walaupun dinilai harga jual produk tersebut terlalu tinggi, namun toh produk tersebut tetap dipasarkan.

Wanny mengatakan pihaknya sedang mencoba mencari suku cadang lokal yang memiliki kualitas sama dengan suku cadang asal Jerman, sehingga harga jual Tauran dapat lebih ditekan.

GM yang juga berencana memproduksi mobil tujuh penumpang di Indonesia juga awalnya kesulitan mendapatkan suku cadang yang berkualitas dan mampu memasok dalam jumlah lumayan besar.

Sementara itu, selain Toyota yang berhasil mengembangkan MPV, Suzuki dengan APV-nya pun cukup sukses karena menjadi produsen MPV yang telah melakukan ekspor ke-82 negara tujuan.

Presiden Direktur Grup Indomobil Gunadi Sindhuwinata menegaskan bahwa keberhasilan Suzuki mengekspor 28 varian APV ke 82 negara di dunia sedikit banyak merupakan karena terdorong oleh kebijakan pemerintah yang awalnya mengembangkan kendaraan komersial.

“Jadi kita bersyukur karena landasan perkembangan industri kita dulu diletakkan pada kendaraan komersil. Ini jadi kekuatan kita yang pada akhirnya berubah jadi MPV,” ujar Gunadi.

Karena itu, ia menyebutkan bahwa pasar otomotif Indonesia unik, terutama untuk penggunaan jenis mobil MPV ini.

“Karena di negara lain itu (menggunaan mobil jenis MPV) sangat kecil,” ujar Gunadi yang juga merupakan Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI).

 

 

(Rinella Putri/AA/TML)